Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sibuk Urus Wabah Corona, Jangan Lupakan Tuberkulosis di Depan Mata

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyebut TBC adalah salah satu dari sepuluh penyakit menular penyebab kematian terbanyak di dunia dan telah ditetapkan sejak lama oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi di dunia.
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 22 Juli 2020  |  10:54 WIB
Vaksin tuberkulosis - Istimewa
Vaksin tuberkulosis - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Bukan Virus Corona penyebab Covid-19 saja yang jadi pandemi, juga tuberkulosis (TB) atau TBC.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyebut TBC adalah salah satu dari sepuluh penyakit menular penyebab kematian terbanyak di dunia dan telah ditetapkan sejak lama oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi di dunia.

Pada 2018 lalu, kata Jokowi, diperkirakan terdapat 845.000 penduduk Indonesia yang mengidap TBC, dan 98.000 orang meninggal karena penyakit menular tersebut.

Sebagian besar merupakan kelompok produktif dalam rentang usia 15 hingga 55 tahun.

“Ini mesti kita waspadai. Meski kita tengah disibukkan dengan penanganan pandemi Covid-19, saya tetap menginstruksikan agar layanan diagnostik maupun pengobatan terhadap pasien tuberkulosis harus tetap berlangsung. Pemerintah berupaya keras untuk mencapai eliminasi tuberkulosis pada 2030 mendatang,” ujar Jokowi di akun Instagramnya @jokowi, Selasa (21/7/2020).

Dikatakan, pola penanganan serupa Covid-19 dapat dipelajari dan diterapkan untuk meningkatkan efektivitas penanganan tuberkulosis.

Misalnya, model pelacakan yang agresif untuk menemukan penderita pada Covid-19, juga bisa untuk mencari penderita tuberkulosis yang belum terlaporkan.

Peringkat Tiga Dunia

Kasus tuberkulosis di Indonesia nomor 3 di dunia setelah India dan China.

Saat tampil pada dialog yang digelar BBPB awal Juli ini, Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes RI Wiendra Waworuntu mengatakan angka kematian akibat tuberkulosis di Indonesia mencapai 13 orang per jam.

Padahal, TB sudah ada obatnya dan gratis di pusat layanan kesehatan.

“Obat TB itu sudah cukup, tersedia di semua layanan, ada di 10.000 puskesmas, di rumah sakit juga tersedia. Obatnya ada, mungkin karena akses orang sulit berobat dan banyak TB resisten,” ujar Wiendra, Selasa (7/7/2020).

Adapun jumlah pasien TB resisten obat diprediksi mencapai 24.000 orang.

Selain itu, ada pasien TB  mengidap HIV. Seorang positif HIV, menurutnya, meninggal justru karena TB, bukan karena HIV.

Penyebab TB resisten antara lain lantaran pasien tidak patuh minum obat, karena masa minum obat adalah 6 bulan.

 100 Ribu Orang Meninggal Setahun

Ketua Dewan Pembina Stop TB Partnership Indonesia Arifin Panigoro mengatakan, sebelum pandemi Covid-19, sekitar 100.000 orang Indonesia meninggal per tahun karena tuberkulosis (TB).

Sementara, dari jumlah temuan penderita per jumlah penduduk, Indonesia justru berada di peringkat pertama di dunia dibandingkan dengan India dan China.

Menurut Arifin--yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden, dengan adanya Covid-19, baik pemerintah dan tenaga medis makin kewalahan. Terlebih, dengan adanya wabah Virus Corona, perhatian pemerintah hingga masyarakat jadi berkurang, karena TB dianggap penyakit lama yang sudah selesai.

 “Padahal di Indonesia ini [TB] serius banget. Kalau 100.000 orang setahun, dibandingkan dengan Corona, Corona tidak ada apa-apanya,” katanya, Selasa (7/7/2020).

Arifin menyebut, tantangan saat ini adalah bagaimana merawat penderita TB dan Covid-19 bersama-sama. Padahal, perhatian pemerintah tersita oleh pandemi Covid-19, lebih memprioritaskan penanggulangan wabah Virus Corona,  sehingga perawatan pasien TB  harus menunggu.

Padahal, tanpa Covid-19 saja temuan penderita TB sangat terbatas, apalagi dengan prioritas yang bergeser karena adanya Covid-19, penanganan TB makin terhambat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi Virus Corona tuberkulosis covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top