Theresa May Hadapi 'Jurang' Brexit Jika Parlemen Ambil Kendali

Pada Rabu (9/1/2019), PM May kalah untuk kedua kalinya dalam dua hari terakhir di House of Commons dan kehilangan kendali atas jadwal untuk menetapkan langkah-langkah selanjutnya jika Parlemen menolak kesepakatan Brexit pada 15 Januari.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 10 Januari 2019  |  21:15 WIB
Theresa May Hadapi 'Jurang' Brexit Jika Parlemen Ambil Kendali
PM Inggris Theresa May - Reuters/Peter Nicholls

Bisnis.com, JAKARTA – Perdana Menteri Inggris Theresa May secara terbuka memikirkan "rencana-B" Brexit di tengah gelagat bahwa Parlemen Inggris akan menolak kesepakatan yang dicapai dengan Uni Eropa dan mencoba mengambil alih proses selanjutnya.

Pada Rabu (9/1/2019) PM May kalah untuk keduanya kalinya dalam dua hari terakhir di House of Commons dan kehilangan kendali atas jadwal untuk menetapkan langkah-langkah selanjutnya jika parlemen menolak kesepakatan Brexit pada 15 Januari.

Setelah kekalahan tersebut, kantor PM May secara terbuka membahas untuk pertama kalinya rencana jika dia kehilangan suara yang sangat penting Selasa depan.

"Niat kami adalah selalu merespons dengan cepat dan memberikan kepastian tentang rencana ke depan jika kami kalah. Itu yang akan kita lakukan," ungkap juru bicara May, James Slack, kepada wartawan di London, seperti dikutip Bloomberg.

Komentar Slack merupakan perkembangan signifikan dan tanda yang nyata bahwa tim May tahu dia kehilangan posisi dalam pertarungannya dengan parlemen mengenai siapa yang mengendalikan arah Brexit.

Ini menyusul kekalahan pada Selasa ketika House of Commons memilih untuk menggagalkan persiapannya untuk keluar dari zona euro tanpa kesepakatan.

Itu semua menunjuk pada sebuah skenario bahwa perdana menteri tidak dapat mendikte apa yang terjadi selanjutnya, sementara parlemen yang berani semakin menegaskan keinginannya.

Beberapa orang di Kabinet May menyambut hal tersebut. Menteri Bisnis Inggris Greg Clark menjadi tokoh pemerintah senior terbaru yang mengisyaratkan bahwa Brexit yang tanpa kesepakatan tidak dapat diterima.

Berbicara kepada BBC, Kamis (10/1/2019) , ia mengatakan investor dunia meningkatkan perhatian terhadap Inggris dan mendesak Parlemen untuk menjadi "peserta aktif" dalam mencapai kompromi terhadap Brexit.

Dalam beberapa hari terakhir, May berusaha mengumpulkan dukungan untuk kesepakatan yang ia perjuangkan. Pekan ini, May bertemu sekelompok anggota parlemen oposisi Partai Buruh demi memenangkan dukungan mereka pada Brexit, menurut seorang sumber.

Selain itu, May juga menemui kelompok anggota parlemen lintas partai untuk membahas kekhawatiran mereka tentang Brexit tanpa kesepakatan, serta kelompok Konservatif.

Namun, jumlah anggota Partai Buruh yang mau mengambil risiko untuk mendukung kesepakatan May jauh lebih sedikit dari jumlah anggota partai Konservatif yang secara lantang berkomitmen untuk menentangnya.

Hanya perubahan signifikan oleh May, misalnya menerima serikat pabean dengan UE, yang memiliki peluang bahwa kompromi dapat tercapai.

Kehilangan Kontrol

Kekalahan di Parlemen dalam beberapa hari terakhir dan kesediaan para menteri Kabinet untuk secara terbuka mendiskusikan preferensi mereka menunjukkan bahwa PM May kehilangan kendali atas proses tersebut.

Partai Buruh berusaha memanfaatkan kelemahan May. Pemimpinnya, Jeremy Corbyn, akan menyampaikan pidato utama mengenai Brexit pada Kamis. Ia akan menyerukan pemilihan umum jika May kalah dalam pemungutan suara pekan depan.

"Jika pemerintah tidak dapat mengesahkan undang-undang terpentingnya, maka harus ada pemilihan umum secepat mungkin," ungkap Corbyn, berdasarkan kutipan pidatonya.

"Pemerintah yang tidak dapat menjalankan bisnisnya melalui House of Commons bukanlah pemerintah sama sekali," ujarnya.

Dengan waktu kurang dari 80 hari hingga Inggris meninggalkan Uni Eropa, tenggat waktu semakin menipis untuk mengamankan kesepakatan dan menghindari apa yang ditakutkan para pebisnis dan politisi pro-Eropa sebagai jalan keluar tanpa kesepakatan yang mahal.

Jika Inggris keluar dari zona euro pada 29 Maret tanpa ada kemitraan perdagangan baru, analis memperkirakan akan terjadi resesi, pound turun sebanyak 25% dan harga rumah anjlok hingga 30%.

Secara resmi, May tidak menyerah untuk memenangkan dukungan Parlemen terkait perjanjian Brexit yang dia negosiasikan selama 18 bulan dengan UE.

Tetapi dia terpaksa membatalkan rencana melakukan pemungutan suara terhadap kesepakatan tersebut pada Desember tahun lalu karena kekhawatiran bakal kalah. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda pergeseran bahwa May akan menang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit, Theresa May

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top