Halimah Dilantik Jadi Presiden Singapura, Ada Warga yang Protes

Halimah Yacob Dilantik Hari Ini, Warga Singapura Ada yang Protes.\nDitunjuknya Halimah Yacob sebagai Presiden wanita pertama Singapura selain disambut hangat oleh para pendukungnya juga memicu protes sejumlah pihak.
Renat Sofie Andriani | 14 September 2017 13:40 WIB
Halimah Yacob (kanan) dan suaminya, Mohammed Abdullah Alhabshee. - REUTERS/Edgar Su

Kabar24.com, JAKARTA – Ditunjuknya Halimah Yacob sebagai Presiden wanita pertama Singapura selain disambut hangat oleh para pendukungnya juga memicu protes sejumlah pihak.

Para kritikus menyatakan kecewa karena kandidat lainnya didiskualifikasi, sedangkan agenda pemilihan suara yang telah direncanakan urung digelar.

Pada Rabu (13/9/2017), Halimah telah resmi ditetapkan sebagai Presiden ke-8 Singapura oleh Returning Officer Ng Wai Choong. Dengan penetapan tersebut, Halimah juga resmi mencetak sejarah sebagai presiden wanita pertama di Singapura.

Mantan Ketua Parlemen di Singapura ini menjabat sebagai Presiden Singapura setelah empat kandidat lainnya dinyatakan tidak memenuhi syarat.

Menurut komisi pemilihan umum setempat, dua di antara empat kandidat bukanlah orang Melayu, sementara dua lainnya tidak memenuhi syarat untuk mengikuti pencalonan. Halimah secara otomatis lolos karena ia berpengalaman menduduki posisi publik senior selama lebih dari tiga tahun.

Pilpres Singapura tahun ini secara khusus memang diperuntukkan bagi komunitas Melayu. Artinya, hanya anggota komunitas itu yang bisa mencalonkan diri.

Sesuai Konstitusi, pilpres di Singapura bisa diperuntukkan khusus bagi salah satu komunitas jika tidak ada seorang pun dari komunitas tersebut yang menjabat Presiden dalam lima masa jabatan terakhir.

Tanpa adanya pesaing lain bagi Halimah, maka tidak ada pemungutan suara di Singapura yang rencananya akan digelar 23 September mendatang. Dengan demikian, Halimah juga mencatatkan diri sebagai Presiden Singapura terpilih tanpa pemungutan suara.

Beberapa kritikus memprotes ketatnya sejumlah aturan kelayakan, di antaranya ketentuan bahwa kandidat dari sektor swasta harus telah memimpin sebuah perusahaan dengan modal disetor minimal S$500 juta (US$ 370 juta).

Kelompok hak asasi berbasis di Singapura, Association of Women for Action and Research (AWARE) menyatakan bahwa pihaknya berharap akan ada lebih banyak upaya untuk memperbaiki akses politik bagi semua wanita di Singapura.

“Sayangnya, proses yang membawa hasil ini belum mencerminkan harapan kami,” tukas AWARE dalam sebuah pernyataan yang diunggah secara online, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (14/9/2017).

Bentuk ketidaksetujuan jarang terlihat di Singapura, salah satu negara terkaya dan paling stabil secara politik di dunia. Sejak kemerdekaannya pada tahun 1965, negara kota tersebut telah diperintah oleh People's Action Party (PAP). Perdana Menteri Singapura saat ini, Lee Hsien Loong, adalah anak dari Lee Kuan Yew, Bapak Pendiri Singapura.

Sejauh ini masih belum ada komentar dari pemerintah Singapura terkait kritik terhadap proses pemilihan. Sementara itu, Halimah, yang akan dilantik hari ini waktu setempat dikabarkan tidak terpengaruh oleh kontroversi tersebut.

“Saya adalah presiden untuk semua orang. Dengan ataupun tanpa pemilihan, saya berjanji untuk melayani semua orang dengan sepenuh hati, kerja keras, beserta semangat dan komitmen yang sama,” tegasnya dalam sebuah pidato.

Tag : singapura
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top