Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rusia Sebut Seruan Paus Fransiskus Soal Perang Ukraina Ditujukan ke Barat

Rusia berpandangan bahwa Paus Fransiskus meminta negara-negara barat untuk mendorong Ukraina bernegosiasi dengan Rusia agar perang berakhir.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu dengan Paus Francis di Vatikan pada Sabtu, 13 Mei 2023 yang mengatakan bulan lalu bahwa Takhta Suci terlibat dalam misi perdamaian untuk mengakhiri perang selama setahun dengan Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu dengan Paus Francis di Vatikan pada Sabtu, 13 Mei 2023 yang mengatakan bulan lalu bahwa Takhta Suci terlibat dalam misi perdamaian untuk mengakhiri perang selama setahun dengan Rusia.

Bisnis.com, JAKARTA — Rusia menyebut bahwa seruan Paus Fransiskus yang mendorong Ukraina agar bernegosiasi untuk mengakhiri perang dengan Rusia ditujukan ke negara-negara Barat yang menjadi sekutu Ukraina.

Sebelumnya, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Ukraina harus berani mengibarkan bendera putih, dalam artian berunding untuk mengakhiri perang dengan Rusia yang berlangsung sejak dua tahun lalu hingga menewaskan puluhan ribu orang.

"Menurut saya, Paus meminta Barat untuk mengesampingkan ambisinya dan mengakui bahwa hal itu salah," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, dilansir kantor berita ANSA pada Senin (11/3/2024).

Dia berpendapat bahwa negara-negara Barat telah menggunakan Ukraina sebagai instrumen dalam ambisi untuk melemahkan Rusia.

Di sisi lain, Zakharova mengeklaim bahwa Rusia tidak pernah menghalangi perundingan dengan Ukraina, meskipun menambahkan bahwa situasi antara kedua negara saat ini buntu.

Sementara itu, Ukraina menolak mentah-mentah seruan Paus Fransiskus tersebut. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengkritisi pernyataan Paus, sementara Menteri Luar Negeri Ukraina mengatakan bahwa pihaknya tidak akan pernah menyerah.

Seperti diketahui, Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim ribuan tentara dalam invasi ke Ukraina pada Februari 2022 lalu. Tak lama setelah mengirim pasukan tersebut, Putin mengeklaim bahwa kedua negara nyaris menyetujui gencatan senjata, tetapi dihalang-halangi oleh Inggris dan Amerika Serikat (AS).

Putin menggambarkan perang di Ukraina sebagai pertempuran antara peradaban suci Rusia melawan Barat yang disebutnya tengah mengalami kemunduran budaya, politik, dan ekonomi. Di sisi lain, negara-negara Barat menganggap invasi Putin sebagai perampasan teritorial yang bertentangan dengan sistem internasional pasca-Perang Dingin.

Adapun, kubu Ukraina mengatakan bahwa mereka tidak akan berhenti hingga tentara Rusia berhasil dipukul mundur. Di luar medan perang, Zelensky mengatakan bahwa Rusia tidak akan diundang ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdamaian yang akan diadakan di Swiss beberapa waktu mendatang.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper