Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rusia Bakal Cabut Ratifikasi Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir

Rusia pada hari Senin (9/10/2023), akan membahas pencabutan ratifikasi perjanjian yang melarang uji coba nuklir.
Tsar Bomba, bom nuklir terbesar sejagat raya yang pernah diciptakan oleh Rusia kala itu masih dalam koloni Uni Soviet./ Wikipedia Commons
Tsar Bomba, bom nuklir terbesar sejagat raya yang pernah diciptakan oleh Rusia kala itu masih dalam koloni Uni Soviet./ Wikipedia Commons

Bisnis.com, JAKARTA - Pimpinan parlemen Rusia pada hari Senin (9/10/2023), akan membahas pencabutan ratifikasi perjanjian yang melarang uji coba nuklir setelah Presiden Vladimir Putin menyatakan kemungkinan bahwa Rusia dapat melanjutkan uji coba nuklir untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade.

Dimulainya kembali uji coba nuklir oleh Rusia, Amerika Serikat atau China boleh jadi penanda dimulainya perlombaan senjata nuklir baru antara negara-negara besar, yang menghentikan uji coba nuklir pada tahun-tahun setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991.

Pada hari Kamis, Putin mengatakan doktrin nuklir Rusia – yang menjelaskan syarat-syarat di mana sia akan menekan tombol nuklir – tidak perlu diperbarui, tetapi dia belum siap untuk mengatakan apakah Moskow perlu melanjutkan uji coba nuklir.

Pemimpin Kremlin mengatakan Rusia dapat mempertimbangkan untuk mencabut ratifikasi Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT) karena Amerika Serikat (AS) telah menandatanganinya, namun belum meratifikasinya.

Hal ini mendorong anggota parlemen terkemuka Rusia, Vyacheslav Volodin, mengatakan dia akan membahas masalah ini pada pertemuan Dewan Duma Rusia berikutnya, badan penting di parlemen Rusia yang mengatur kerja legislatif.

Pada hari Jumat (6/10/2023), utusan Rusia untuk Organisasi Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBTO) mengatakan Moskow akan mencabut ratifikasi perjanjian tersebut, sebuah tindakan yang dikecam Washington karena membahayakan “norma global” terhadap ledakan uji coba nuklir.

Bagi sebagian ilmuwan dan aktivis, banyaknya uji coba bom nuklir selama Perang Dingin menyoroti kebodohan dari tindakan berbahaya yang pada akhirnya dapat menghancurkan umat manusia dan mencemari Bumi selama ratusan ribu tahun.

Uji Nuklir

Namun perang di Ukraina telah meningkatkan ketegangan antara Moskow dan Washington hingga mencapai titik tertinggi sejak Krisis Rudal Kuba tahun 1962.

Seperti halnya China yang berupaya meningkatkan persenjataan nuklir untuk menyamai statusnya sebagai negara adidaya yang sedang berkembang.

Dengan mencabut ratifikasi tersebut, Rusia mengirimkan peringatan kepada Amerika Serikat bahwa Moskow dapat mengubah asumsi perencanaan nuklir pasca-Perang Dingin secara mendasar.

Ditandatangani oleh 187 negara dan diratifikasi oleh 178 negara, CTBT tidak dapat berlaku sampai delapan negara tertentu telah menandatangani dan meratifikasinya.

Amerika Serikat, China, Mesir, Iran, dan Israel telah menandatangani tetapi belum meratifikasinya. India, Korea Utara dan Pakistan belum menandatangani.

Uni Soviet terakhir kali melakukan uji coba nuklir pada tahun 1990 dan Amerika Serikat pada tahun 1992.

Rusia, yang mewarisi sebagian besar persenjataan nuklir Soviet, belum pernah melakukan uji coba tersebut. Namun tanda-tanda telah muncul bahwa pengujian dapat dilanjutkan.

Bulan lalu CNN mengatakan gambar satelit menunjukkan peningkatan aktivitas di lokasi uji coba nuklir di Rusia, China, dan Amerika Serikat.

Pada tahun 2020, Washington Post mengatakan pemerintahan Trump saat itu telah membahas apakah akan mengadakan uji coba nuklir.

Sepuluh uji coba nuklir telah dilakukan sejak CTBT. India dan Pakistan masing-masing melakukan dua uji coba pada tahun 1998, sementara Korea Utara mengadakan uji coba pada tahun 2006, 2009, 2013, 2016 (dua kali) dan 2017, menurut PBB.

perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBTO) mengatakan Moskow akan mencabut ratifikasi perjanjian tersebut, sebuah tindakan yang dikecam Washington karena membahayakan “norma global” terhadap ledakan uji coba nuklir.

 

 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nancy Junita
Editor : Nancy Junita
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper