Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rusia Gertak Barat, Tebar Ancaman Serangan Nuklir di Eropa

Ancaman serangan nuklir di Ukraina dan Barat dilakukana saat Rusia merilis hasil referendum sebagai pendahuluan untuk mencaplok empat wilayah Ukraina.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 28 September 2022  |  05:59 WIB
Rusia Gertak Barat, Tebar Ancaman Serangan Nuklir di Eropa
Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev mengeluarkan ancaman serangan nuklir terhadap Ukraina dan negara Barat saat Rusia merilis hasil referendum sebagai pendahuluan untuk mencaplok empat wilayah Ukraina.

Akan tetapi seorang penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa Kyiv tidak akan terpengaruh oleh ancaman nuklir atau oleh ancaman aneksasi.

Dia menegaskan akan melanjutkan rencana untuk merebut kembali semua wilayah yang telah diduduki oleh pasukan Rusia.

Sementara itu Eropa sedang menyelidiki apa yang dikatakan Jerman dan Denmark sebagai serangan yang menyebabkan kebocoran besar ke Laut Baltik dari dua jaringan pipa Rusia. Tapi masih belum jelas siapa yang mungkin berada di balik kebocoran tersebut.

Ancamaan serangan nuklir oleh Medvedev adalah salah satu dari beberapa yang dikeluarkan oleh Putin dan rekan-rekannya dalam beberapa pekan terakhir.

Para diplomat mengatakan ancaman serangan nuklir adalah upaya Moskow untuk menakut-nakuti Barat agar mengurangi dukungannya untuk Kyiv dengan mengisyaratkan penggunaan senjata nuklir taktis untuk mempertahankan wilayah yang dicaplok Ukraina.

Untuk pertama kalinya Medvedev meramalkan bahwa aliansi militer NATO tidak akan secara langsung memasuki perang Ukraina bahkan jika Moskow menyerang Ukraina dengan senjata nuklir.

"Saya percaya bahwa NATO tidak akan secara langsung ikut campur dalam konflik bahkan dalam skenario ini," kata Medvedev dalam sebuah posting di Telegram seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Rabu (28/9/2022).

Dia mengatakan tidak ada negara di seberang lautan dan di Eropa yang mau hancur dalam kiamat nuklir.

Sedangkan Penasihat Zelenskyy, Mykhailo Podolyak menepis komentar itu dan mengatakan pihaknya akan terus mempertahankan negaranya.

"Kami percaya perang hanya dapat berakhir ketika kami telah membebaskan wilayah kami di perbatasan yang diakui secara internasional pada tahun 1991. Kami tidak memiliki skenario lain," katanya.

Podolyak mengatakan kekuatan nuklir dunia harus memperingatkan Rusia bahwa setiap penggunaan senjata nuklir strategis atau taktis di Ukraina akan ditanggapi dengan tindakan nyata.

Pejabat Rusia di empat wilayah pendudukan Ukraina melaporkan mayoritas besar pada Selasa mendukung menjadi bagian dari Rusia setelah lima hari referendum yang dikecam oleh Kyiv dan Barat sebagai kegiatan palsu.

Ketua Majelis Tinggi parlemen Rusia menyatakan majelis mungkin mempertimbangkan penggabungan empat wilayah ke Rusia pada 4 Oktober.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rusia Ukraina Perang Rusia Ukraina
Editor : Edi Suwiknyo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top