Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Media Sosial Pejabat Singapura Banjir Kritikan dari Pendukung UAS

Deportasi UAS oleh Singapura berbuntut serangan spam komentar negatif dan kritikan dari pendukung UAS di akun media sosial petinggi Singapura
Ustaz Abdul Somad memberikan tausiyah saat pencanangan pesantren ramadhan di Masjid Agung Nurul Iman, Padang, Sumatra Barat, Senin (28/3/2022).
Ustaz Abdul Somad memberikan tausiyah saat pencanangan pesantren ramadhan di Masjid Agung Nurul Iman, Padang, Sumatra Barat, Senin (28/3/2022).

Bisnis.com, JAKARTA - Akun media sosial sejumlah tokoh politik dan instansi pemerintah Singapura banjir komentar negatif hingga kritikan dari pendukung Ustaz Abdul Somad (UAS).

Hal itu merupakan buntut dari deportasi yang dilakukan Singapura terhadap UAS pada Senin lalu.

Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Singapura menyampaikan bahwa pihaknya menemukan seruan untuk melakukan serangan siber terhadap akun media sosial Pemerintah Singapura di grup obrolan publik Indonesia.

Tidak hanya akun media sosial Instagram Presiden Halimah Yacob dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong, Menteri Senior Teo Chee Hean dan Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan juga tidak luput dari serangan spam yang dilakukan warganet Indonesia.

"Akun Instagram dari Immigration and Checkpoints Authority dan Singapore Tourism Board juga dipenuhi spam," kata juru bicara itu dikutip dari ChannelNewsAsia, Kamis (19/5/2022). 

Dia juga mengimbau perusahaan-perusahaan Singapura lainnya untuk mengambil langkah aktif memperkuat keamanan siber, meningkatkan kewaspadaan, dan memperkuat pertahanan daring mereka untuk melindungi diri dari kemungkinan serangan siber.

Adapun, UAS dan enam orang dalam rombongannya tidak diizinkan masuk ke Singapura dengan alasan UAS kerap menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi.

Atas alasan itu, Pihak Singapura pun mengambil keputusan bahwa UAS tidak diizinkan berada di tengah masyarakat Singapura yang multiras dan multiagama.

"Meskipun UAS berusaha memasuki Singapura dengan alasan untuk kunjungan sosial, namun Pemerintah Singapura memandang serius setiap orang yang menganjurkan kekerasan dan atau mendukung ajaran ekstremis dan segregasionis," kata pihak Kementeriian Dalam Negeri (MHA) Singapura.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper