Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Korut Ancam Korsel dan AS, Minta Latihan Militer Bersama Tak Dilakukan

Korea Utara memperingatkan bahwa latihan bersama antara militer AS dan Korsel akan menghambat kemajuan dalam perbaikan hubungan antar Korut dan Korsel.
Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un bersiap sebelum kembali ke negaranya di stasiun kereta di Vladivostok, Rusia, Jumat (26/4/2019)./Bloomberg-Andrey Rudakov
Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un bersiap sebelum kembali ke negaranya di stasiun kereta di Vladivostok, Rusia, Jumat (26/4/2019)./Bloomberg-Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Korea Selatan dan Amerika Serikat akan menghadapi ancaman keamanan yang lebih besar dari Korea Utara jika tetap ngotot melanjutkan latihan militer bersama mulai minggu ini.

Kim Yo Jong, seorang pejabat kuat Korea Utara dan saudara perempuan pemimpin Kim Jong Un mengatakan hal itu terkait rencana Korea Selatan dan Amerika Serikat yang akan memulai latihan militer pada hari ini.

Korea Utara memperingatkan bahwa latihan tersebut akan menghambat kemajuan dalam perbaikan hubungan antar kedua Korea.

"Latihan itu adalah 'tindakan yang tidak diinginkan dan merusak diri sendiri' yang mengancam rakyat Korea Utara dan meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea," kata Kim Yo Jong dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita negara KCNA seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Selasa (10/8/2021).

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Korea Selatan akan menghadapi ancaman keamanan yang lebih serius dengan mengabaikan peringatan berulang untuk tidak melanjutkan latihan perang yang berbahaya.

Dia menuduh Korea Selatan melakukan "tindakan berbahaya" karena melanjutkan latihan tidak lama setelah hubungan antara Pyongyang dan Seoul mulai dibangun untuk meredakan ketegangan.

Reaksi Korea Utara terhadap latihan tersebut menunjukkan ancaman atas pembatalan upaya Presiden Korea Selatan Moon Jae-in untuk membuka kembali kantor penghubung bersama yang diledakkan oleh Pyongyang tahun lalu. Selan itu pertemuan puncak sebagai bagian dari upaya untuk memulihkan hubungan juga terancam batal.

Kementerian pertahanan Korea Selatan menyatakan bahwa waktu, skala dan formasi latihan belum selesai. Pasukan AS dan Korea Selatan menolak berkomentar atas rencana itu.

Amerika Serikat menempatkan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan sebagai warisan Perang Korea 1950-1953. Perang itu berakhir dengan gencatan senjata, bukan kesepakatan damai sehingga meninggalkan semenanjung dalam keadaan perang teknis.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper