Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

M. Lutfi Dilantik Jadi Dubes RI untuk AS, Ini Targetnya

Di Washington, setidaknya ada dua prioritas tugas untuk Muhammad Lutfi yang menggantikan Mahendra Siregar sebagai Dubes RI untuk AS.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 14 September 2020  |  11:16 WIB
Muhammad Lutfi - Istimewa
Muhammad Lutfi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Hari ini mantan Menteri Perdagangan sekaligus mantan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal Muhammad Lutfi dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat.

Mantan Dubes RI untuk Jepang di era pemerintahan Presiden SBY itu mengisi pos Dubes RI di Washington DC menggantikan Mahendra Siregar.

Seperti diketahui, Mehendra saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri RI.

Di Washington, setidaknya ada dua prioritas tugas untuk Muhammad Lutfi.

Pertama, Lutfi harus memastikan bahwa AS memperpanjang persetujuan fasilitas pembebasan tarif bea masuk (generalized system of preference/GSP) ke Indonesia.

Kedua, Lutfi menjadi kunci untuk pembicaraan soal negosiasi perjanjian perdagangan bebas terbatas atau limited trade deal dengan AS.

“Saya akan mendorong dan memastikan bahwa persetujuan GSP diperpanjang. Lalu, memulai pembicaraan negosiasi daripada limited trade deal, yaitu barang-barang di AS yang pajaknya kurang dari 5 persen bisa di nol persenkan tanpa melalui kongres. Kita memulai negosiasi itu segera, itu prioritas,” ujar Lutfi dalam keterangan resminya, diterima Senin (14/9/2020) .

Indonesia berada di urutan ketiga negara yang banyak memanfaatkan fasilitas GSP AS. Tercatat sekitar 14,9 persen ekspor Indonesia ke AS memanfaatkan fasilitas tersebut.

Saat ini, Indonesia tengah menunggu hasil kajian pemerintah AS melalui United States Representiative (USTR) terkait pemberian fasilitas GSP.

Dalam keterangan resminya, Lutfi memastikan diplomasi ekonomi dengan AS akan diperkuat ke depannya.

Seiring era baru perdagangan internasional, Lutfi menyadari bahwa untuk bisa menjual barang atau produk ke pasar AS, maka Indonesia juga mesti membeli produk AS.

“Saya juga ingin memastikan produk-produk AS bisa berkompetisi di pasar Indonesia. Karena pasar kita besar dan prospektif, saya akan memastikan bahwa AS mengetahui bahwa Indonesia selalu memperbaiki iklim investasi,” ungkap Lutfi.

Investor AS hingga saat ini tetap memperlihatkan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia. Salah satunya, Kimberly-Clark Corporation.

Perusahaan yang bermarkas di Texas, AS. itu mengumumkan akan mengakuisisi Softex Indonesia.

Adapun, nilai transaksi tunai sebesar US$1,2 miliar yang berasal dari sekelompok pemegang saham termasuk CVC Capital Partners Asia Pacific IV.

“Pada akhir era-70an mereka salah satu perusahaan pertama yang investasi besar di Indonesia. Sekarang mereka sudah mulai lagi. Dengan modalitas baru, dengan membuka pasar kita ternyata banyak investasi masuk," ujar alumnus Purdue University, Amerika Serikat, peraih penghargaan sebagai Pemimpin Muda Berpengaruh dari The World Economic’s Forum’s Young Global Leaders 2008 ini..

Lutfi berharap mereka membuka pasar baru sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

washington dubes ri m. lutfi
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top