Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penampakan Perdana PM Johnson setelah Sembuh dari Covid-19

Dalam sebuah pernyataan di luar kantor Downing Street, dia mengatakan Inggris "mulai membalikkan keadaan" dalam menangani Covid-19.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 27 April 2020  |  17:45 WIB
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson hari ini, Senin (27/4/2020), tampil di luar kantor Downing Street, Inggris. - Istimewa
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson hari ini, Senin (27/4/2020), tampil di luar kantor Downing Street, Inggris. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson hari ini, Senin (27/4/2020), tampil untuk pertama kali di depan umum dalam waktu hampir sebulan dirawat di rumah sakit dan beberapa hari dirawat intensif akibat terkena wabah Covid-19.

Dalam sebuah pernyataan di luar kantor Downing Street, dia mengatakan Inggris "mulai membalikkan keadaan" dalam menangani Covid-19.

Akan tetapi, dia tidak mengindikasikan akan ada pencabutan pembatasan kuncian (lockdown).

Johnson mengatakan pemerintahnya akan menguraikan rencana pelonggaran lockdown dalam beberapa hari mendatang, tetapi memperingatkan bahwa akan ada penilaian yang sulit.

"Kami tidak bisa menguraikan sekarang seberapa cepat atau lambat atau bahkan ketika perubahan itu akan dibuat, meskipun jelas pemerintah akan mengatakan lebih banyak tentang hal ini dalam beberapa hari mendatang," kata Johnson seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Senin (27/4/2020).

"Saya ingin memberitahu sekarang bahwa keputusan-keputusan ini akan diambil dengan transparansi semaksimal mungkin dan saya ingin berbagi semua pekerjaan dan pemikiran kami, pemikiran saya, dengan Anda orang-orang Inggris,” katanya.

Johnson menambahkan bahwa pihaknya akan mengandalkan ilmu pengetahuan untuk mengambil keputusan.

"Setiap hari saya tahu bahwa virus ini membawa kesedihan dan duka baru bagi rumah tangga di seluruh negeri dan ini adalah tantangan tunggal terbesar yang dihadapi negara ini sejak perang," katanya seperti dikutip BBC.com.

Inggris telah menjadi salah satu negara yang paling parah terkena pandemi Covid-19, dengan jumlah kematian mencapai 20.732 pada hari-hari sebelum kembalinya Johnson.

Jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi ketika kematian di masyarakat diperhitungkan, bukan hanya yang di rumah perawatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Boris Johnson
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top