Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Berikut Spesifikasi Drone ScanEagle, Hibah AS untuk Indonesia

Drone ScanEagle senilai US$28,3 juta ini rencananya akan digunakan TNI AL untuk meningkatkan kemampuan intelijen, pengawasan, dan pengintaian di wilayah maritim guna memperkuat pertahanan negara.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 26 Februari 2020  |  14:19 WIB
 Dron ScanEagle - Wikipedia
Dron ScanEagle - Wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Pertahanan akan menerima hibah 14 unit drone ScanEagle dan peningkatan kemampuan tiga unit Helikopter Bell 412 dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Bagaimana spesifikasi alat tersebut?

Drone ScanEagle senilai  US$28,3 juta ini rencananya akan digunakan TNI AL untuk meningkatkan kemampuan intelijen, pengawasan, dan pengintaian di wilayah maritim guna memperkuat pertahanan negara.

ScanEagle adalah bagian dari ScanEagle Unmanned Aircraft Systems, yang dikembangkan dan dibangun oleh Insitu Inc., anak perusahaan The Boeing Company.

Adapun Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tak berawak ini didasarkan pada pesawat miniatur robot SeaScan Insitu yang dikembangkan untuk industri perikanan komersial. Drone ini dapat diangkat oleh seorang dewasa karena bentuknya tak terlalu besar.

Menurut laman Boeing, drone ini dapat beroperasi di atas 15.000 kaki (4.572 meter) dan berkeliaran di medan perang untuk misi hingga 20 jam. Drone dengan bobot maksimum 22 kilogram ini, digerakkan mesin piston model pusher berdaya 15 tenaga kuda.

Dari segi kecepatan, ScanEagle dapat terbang hingga 111 km/jam dan kecepatan maksimum mencapai 148 km/jam. Batas ketinggian drone ini hingga 5.950 meter. ScanEagle sanggup berada di udara dengan lama terbang atau endurance lebih dari 24 jam.

Sementara itu, untuk upgrade peralatan Helikopter Bell 412 bernilai US$6,3 juta. Pembaruan peralatan ini dIgunakan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas dan meningkatkan kemampuan pertahanan negara.

"Nantinya Drone ScanEagle ini akan digunakan oleh TNI AL untuk kepentingan khusus. Kita hanya keluar dana sekitar Rp10 miliar untuk mengintegrasikan dan memastikan keamanan data dari peralatan ini dengan Alutsista lainnya. Nanti PT LEN yang akan bertugas untuk integrasikan," kata Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sakti Wahyu Trenggono melalui keterangan resminya, Rabu (26/2/2020).

Di kawasan Asia Tenggara-Pasifik, drone ScanEagle sudah digunakan oleh Angkatan Laut Singapura. Pengguna lainnya adalah AL dan Angkatan Darat Australia. Bahkan, ScanEagle milik Militer Australia telah teruji perang (battle proven) di Irak.

Persetujuan Hibah

Kementerian Pertahanan turut meminta persetujuan penerimaan hibah itu kepada Komisi I DPR RI. Wamenhan menjelaskan pemerintah AS menawarkan program hibah kepada TNI sejak 2014 - 2015.

Atas penawaran tersebut, TNI AL mengambil program itu berupa Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan peningkatan kapasitas helikopter Bell 412 pada 2017.

Kemhan kemudian membentuk tim pengkaji untuk melakukan penilaian kelayakan penerimaan barang tersebut dari aspek teknis, ekonomis, politik dan strategi. Hasilnya, Kemhan memutuskan untuk menerima program hibah itu.

Menanggapi permintaan dari Kemhan, Komisi I DPR secara prinsip menyetujui keinginan dari Kemhan untuk mendapatkan hibah dari pemerintah AS.

Komisi I DPR mengingatkan Kemhan untuk mengedepankan kehati-hatian dan kerahasiaan data, serta tidak membebani APBN dalam setiap penerimaan hibah dari negara asing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat Drone tni al
Editor : Nancy Junita
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top