Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Siapa Otak di Balik Insiden Penembakan Donald Trump?

Secret Service menjadi pihak yang paling disorot usai insiden penembakan terhadap Donald Trump.
Suasana ricuh usai kandidat presiden dari Partai Republik dan mantan Presiden AS Donald Trump ditembak saat kampanye di Butler Farm Show di Butler, Pennsylvania, AS, 13 Juli 2024. REUTERS/Brendan McDermid
Suasana ricuh usai kandidat presiden dari Partai Republik dan mantan Presiden AS Donald Trump ditembak saat kampanye di Butler Farm Show di Butler, Pennsylvania, AS, 13 Juli 2024. REUTERS/Brendan McDermid

Bisnis.com, JAKARTA -- Kinerja Secret Service atau menjadi sorotan setelah insiden penembakan terhadap Donald Trump. Mereka kecolongan dan gagal melindungi calon presiden (capres) Amerika Serikat yang menjadi tugas utama mereka.

Secret service merupakan agen rahasia yang semula dibentuk pada tanggal 5 Juli 1865 sebagai bagian dari Departemen Keuangan. Namun demikian, pada tahun 1984, Secret Service memulai bertugas untuk melindungi secara paruh waktu Presiden Cleveland.

Pada tahun 1901 terjadi pembunuhan terhadap Presiden William McKinley. Kongres kemudian memerintahkan Secret Service untuk melindungi presiden Amerika Serikat. Setahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1902, Secret Service resmi bertugas secara penuh untuk melindungi orang nomor 1 di negeri Paman Sam tersebut.

Adapun Presiden Joe Biden, seperti dilansir dari Reuters, telah meminta Biro Rahasia atau Secret Service untuk mengevaluasi sistem dan mekanisme perlindungan terhadap para kandidat presiden.

Sementara itu, anggota parlemen Partai Republik mengatakan akan melakukan penyelidikan cepat terkait penembak yang tampaknya berhasil menghindari pengawalan Agen Rahasia dan naik ke atap gedung dekat tempat Donald Trump berpidato.

Meskipun informasi tentang insiden tersebut masih minim, laporan awal mengatakan bahwa penembak Trump berada di luar tempat kampanye di Butler, Pennsylvania. 

Para pendukung Trump mengecam Agen Rahasia yang memiliki tanggung jawab utama untuk melindungi Trump sebagai mantan Presiden AS.

Sekutu Trump, Elon Musk bahkan menyerukan agar pimpinan dari lembaga Agen Rahasia tersebut mengundurkan diri.

"Bagaimana seorang penembak jitu dengan perlengkapan senapan lengkap diperbolehkan merangkak ke atap terdekat dengan calon presiden?," kata aktivis konservatif, Jack Posobiec di situs media sosial X.

Ketua DPR dari Partai Republik Mike Johnson mengatakan di media sosial bahwa DPR akan mengundang Direktur Agen Rahasia Kimberly Cheatle dan pejabat terkait lainnya dari DHS (Departemen Keamanan Dalam Negeri), serta FBI untuk menghadiri sidang di hadapan komite secepatnya.

Penjelasan Secret Service

Dilansir Reuters, pihak Secret Service mengatakan setelah penembakan itu, telah memulai penyelidikan dan memberi penjelasan kepada Presiden Demokrat Joe Biden, saingan Trump. 

Seorang warga, Ben Maser berada di luar area kampanye dan mendengarkan Trump, ketika dia melihat dua petugas polisi tampak sedang mencari seseorang. Maser, seorang tukang las berusia 41 tahun, mulai mengamati area tersebut.

"Saya melihat orang itu di atap. Saya memberi tahu petugas bahwa dia ada di sana. Dia pun mencarinya," kata Maser.

Mantan Agen Rahasia yang bertugas dalam operasi kepresidenan, Joseph LaSorsa mengatakan bahwa serangan itu pasti akan menyebabkan peninjauan ulang terhadap keamanan Trump, dan ke depannya ia kemungkinan akan diberikan tingkat perlindungan yang lebih mirip dengan presiden yang sedang menjabat. 

"Akan ada peninjauan intensif atas insiden tersebut dan akan ada penataan ulang besar-besaran. Ini tidak boleh terjadi," katanya. 

Agen Rahasia mengatakan bahwa baru-baru ini sudah menambahkan sumber daya dan kemampuan perlindungan ke dalam tim keamanan Trump, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Seorang agen pensiunan yang bekerja di bidang layanan perlindungan, mengatakan insiden itu seharusnya memicu tinjauan internal, dan idealnya juga tinjauan eksternal. 

"Besarnya situasi ini menuntut pengawasan menyeluruh untuk mencegah kegagalan seperti itu di masa mendatang dan untuk memastikan akuntabilitas di semua tingkatan," kata agen pensiunan tersebut.

FBI Turun Tangan 

Sementara itu, Biro Investigasi Federal (FBI) telah mengeluarkan pernyataan untuk memimpin penyelidikan atas insiden penembakan terhadap calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

FBI mengatakan sebelumnya bahwa personilnya berada di tempat kejadian dan akan terus bekerja sama dengan Agen Rahasia selama penyelidikan berlangsung.

"FBI telah mengambil alih peran lembaga penegak hukum federal utama dalam penyelidikan insiden yang melibatkan mantan Presiden Donald Trump yang terjadi hari ini di Butler, Pennsylvania,” kata pihak FBI, dalam pernyataan resminya, dilansir Al-Jazeera, pada Minggu (14/7/2024).

Adapun, Kepala Pentagon AS Lloyd Austin juga mengatakan bahwa seluruh departemennya mengutuk serangan tersebut. 

Lloyd Austin menjadi salah satu pejabat yang mengecam kekerasan tersebut, yang menurutnya sama sekali tidak memiliki tempat dalam demokrasi. 

Menurutnya, cara tersebut bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan perbedaan di Amerika dan ini tidak boleh terjadi. 

“Saya lega bahwa laporan menunjukkan mantan Presiden Trump aman, dan saya berdoa untuknya dan keluarganya serta semua orang yang terkena dampak insiden mengerikan ini,” tambahnya.

Daftar Upaya Pembunuhan

Trump bukan satu-satunya figur atau tokoh politik AS yang mengalami insiden percobaan pembunuhan saat kampanye. Dilansir dari statista, sepanjang sejarah AS, terdapat banyak sekali plot dan upaya untuk membunuh presiden AS.

Dalam dua abad sejak upaya pembunuhan pertama, sebagian besar rencana aksi telah terungkap atau dicegah, namun beberapa di antaranya nyaris mencapai tujuannya, dan empat di antaranya berhasil membunuh presiden yang sedang menjabat.

1. Andrew Jackson

Kasus pertama yang diketahui adalah percobaan pembunuhan Andrew Jackson yang gagal pada tahun 1835. Jackson berhasil memukul pelakunya hingga menyerah dengan tongkatnya.

2. Abraham Lincoln

Upaya pembunuhan pertama yang berhasil terjadi pada tahun 1865, ketika simpatisan dan mata-mata Konfederasi berencana membunuh tiga tokoh berpangkat tertinggi di Persatuan, dalam upaya untuk menyalakan kembali Perang Saudara Amerika.

Dari tiga sasaran hanya Lincoln yang dibunuh, setelah ditembak di kepala oleh John Wilkes Booth. Lincoln meninggal dalam waktu dua belas jam setelah ditembak.

3. William McKinley

Presiden AS ketiga yang dibunuh adalah William McKinley. Ia ditembak dua kali saat bertemu dengan anggota masyarakat, hanya enam bulan memasuki masa jabatan keduanya.

Upaya tersebut tidak langsung berakibat fatal, dan McKinley bahkan mampu menghentikan orang-orang yang melihat untuk membunuh penyerangnya. McKinley meninggal satu minggu setelah serangan itu.

4. John F. Kennedy 

Presiden AS ke-empat yang dibunuh adalah John F. Kennedy, yang ditembak oleh mantan marinir dan pembelot ke Uni Soviet, Lee Harvey Oswald. Oswald menembak Kennedy dari lantai enam gudang terdekat saat iring-iringan mobil umum di Dallas, Texas pada tahun 1963, dan Kennedy langsung meninggal.

5. Theodore Roosevelt

Saat dalam kampanye tahun 1912, mantan presiden Theodore Roosevelt ditembak di dada sebelum memberikan pidato; Roosevelt mengetahui bahwa cederanya tidak fatal, dan kemudian menyampaikan pidato selama 84 menit sebelum mencari pertolongan medis.

6. Ronald Reagan

Pada tahun 1981, seorang pria bersenjata menembakkan enam peluru ke arah Ronald Reagan ketika dia bertemu dengan kerumunan orang di luar sebuah hotel di Washington. Tembakan itu melukai presiden dan tiga orang lainnya dalam serangan itu.

7. Gerald Ford

Secara kebetulan, satu-satunya pelaku perempuan dalam upaya ini sama-sama mencoba membunuh Presiden Gerald Ford, dalam dua serangan yang tidak berhubungan di California pada bulan September 1975.

8. George W. Bush

Percobaan pembunuhan terhadap Bush tidak terjadi di Amerika Serikat. Peristiwa itu terjadi ketika sebuah granat dilemparkan ke atas panggung di Tbilisi, Georgia, ketika George W. Bush berpidato di sana pada tahun 2005.

9. Obama dan Clinton

Kemudian, pada bulan Oktober 2018, enam belas bom dikirim melalui pos ke tokoh-tokoh Demokrat (termasuk presiden Obama dan Clinton), kritikus Trump, dan outlet berita; sementara pelaku lainnya mengirimkan surat yang dicampur dengan risin kepada Presiden Trump dan tokoh senior militer AS.

10. Donald Trump

Mantan presiden AS Donald Trump baru saja mengalami insiden penembakan oleh pelaku yang belum teridentifikasi identitasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Erta Darwati
Editor : Edi Suwiknyo
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper