Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Warga Israel Gelar Unjuk Rasa, Desak Pemerintah Mulai Pemilu Baru Untuk Gantikan Netanyahu

Ribuan warga Israel bergabung dalam aksi demonstrasi di Yerusalem, Senin (1/4/2024) menuntut diselenggarakan pemilihan umum (pemilu) yang baru.
Anggota pasukan keamanan Israel berjaga, ketika pengunjuk rasa menuntut penggulingan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem (1/4/2024)/Reuters
Anggota pasukan keamanan Israel berjaga, ketika pengunjuk rasa menuntut penggulingan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem (1/4/2024)/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Ribuan warga Israel bergabung dalam aksi demonstrasi turun ke jalan di Yerusalem, Senin (1/4/2024). Aksi tersebut sudah dilakukan sejak tiga hari lalu dengan menuntut pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan menuntut diselenggarakan pemilihan umum (pemilu) yang baru.

Intensitas demonstrasi kian meningkat disamping konflik di Gaza yang masih berlangsung dan kemarahan publik terhadap pemerintahan Israel atas 134 sandera Israel yang masih ditahan oleh gerakan Islam Hamas.

"Kami di sini untuk melakukan protes. Untuk meminta diadakannya pemilu sesegera mungkin. Kami merasa sudah mencapai batasnya. Kami benar-benar harus menyingkirkan Bibi (Netanyahu)," kata Timna Benn, seorang pengunjuk rasa di Yerusalem dikutip dari Reuters (2/4/2024).

Koalisi sayap kanan Netanyahu menghadapi beberapa protes terbesar dalam sejarah Israel tahun lalu, ketika ratusan ribu orang bergabung dalam demonstrasi mingguan menentang rencana perombakan kekuasaan Mahkamah Agung, yang oleh para pengunjuk rasa dianggap sebagai serangan terhadap landasan demokrasi Israel.

Netanyahu telah berulang kali mengesampingkan pemilu dini, yang menurut jajak pendapat menunjukkan dia akan kalah, dan mengatakan bahwa melakukan pemilu di tengah perang hanya akan menguntungkan Hamas.

Dia telah berjanji untuk membawa pulang para sandera dan menghancurkan Hamas, gerakan Islam yang menguasai Gaza, di mana lebih dari 32.000 warga Palestina telah terbunuh dalam serangan Israel selama berbulan-bulan, menurut otoritas kesehatan yang dikelola Hamas.

Namun setelah berbulan-bulan ketika krisis di Gaza membuat aturan normal dalam politik tertahan, Netanyahu menghadapi oposisi yang semakin vokal.

Survei menunjukkan bahwa sebagian besar warga Israel menyalahkan Netanyahu, perdana menteri Israel yang paling lama menjabat, atas kegagalan keamanan yang menyebabkan serangan dahsyat oleh pejuang Hamas terhadap komunitas di Israel selatan pada 7 Oktober, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan ratusan warga disandera.

Adapun mengenai tahanan yang masih disandera, Netanyahu berjanji untuk mengembalikan para sandera yang masih tertahan dan menghancurkan Hamas.

Namun hal tersebut ditepis ketika terjadi penyerangan terhadap komunitas di Israel Selatan (7/10/2023) yang menewaskan 1.200 orang termasuk sejumlah tahanan yang disandera.

"Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi di negara ini dan rakyatnya. Mereka hanya memikirkan bagaimana mempertahankan posisi mereka di pemerintahan. Mereka bekerja untuk diri mereka sendiri, bukan untuk rakyat. Sesederhana itu," ungkap Refael Shakked selaku pengunjuk rasa, dikutip dari Reuters (2/4/2024)

Diketahui, koalisi sayap kanan Netanyahu dihadapkan dengan beberapa aksi protes dan terhitung sebagai aksi terbesar dalam sejarah Israel. Netanyahu juga dinilai telah berulang kali menunda pemilu dengan dalih pemilu di tengah perang hanya akan menguntungkan Hamas.

(Nona Amalia)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Redaksi
Editor : Muhammad Ridwan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper