Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jika Vladimir Putin Pencet Tombol Nuklir, Ukraina Bisa Jadi Hiroshima Chapter 2?

Vladimir Putin telah memberi peringatan jika Rusia bisa saja menggunakan nuklir dalam perang melawan Ukraina.
Hesti Puji Lestari
Hesti Puji Lestari - Bisnis.com 25 September 2022  |  09:41 WIB
Jika Vladimir Putin Pencet Tombol Nuklir, Ukraina Bisa Jadi Hiroshima Chapter 2?
Suasana kompleks apartemen rusak berat setelah penembakan semalam saat serangan Rusia di Ukraina berlanjut di Kharkiv, Ukraina. REUTERS - Leah Millis
Bagikan

Bisnis.com, SOLO - Vladimir Putin disebut telah memberikan ancaman terselubung untuk menggunakan nuklir dalam perang melawan Ukraina.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Rabu, pemimpin Rusia tersebut telah mengumumkan mobilisasi parsial di mana semua orang di negara tersebut harus mau perang jika diperlukan negara.

Mobilisasi ini juga mencakup penggunaan seluruh senjata yang dimiliki Rusia jika mereka terancam, termasuk senjata nuklir.

"Mereka yang mencoba memeras kami dengan senjata nuklir harus tahu bahwa angin juga dapat berbelok ke arah mereka. Ini bukan gertakan," kata Putin.

Lalu apa dampak jika Vladimir Putin benar-benar menekan tombol nuklir?

Analis mengatakan Moskow kemungkinan mengatakan jika saat ini Rusia memiliki dua tipe nuklir yakni taktis dan strategis.

Nuklir taktis adalah senjata kecil yang kekuatannya mulai dari 0,3 kiloton hingga 100 kiloton daya ledak.

Bom taktis dirancang untuk memiliki dampak terbatas di medan perang. Efek yang ditimbulkan akan lebih ringan ketimbang nuklir strategis.

Sementara senjata nuklir strategis khusus dirancang untuk berperang dan memenangkan perang habis-habisan.

Tapi yang dimaksud kecil itu bukan tanpa efek. Sebagai informasi, nuklir yang dijatuhkan AS ke Hiroshima dulu memiliki kekuatan 15 kiloton saja.

Para analis mengatakan tujuan Rusia dalam menggunakan bom nuklir taktis di Ukraina adalah untuk menakut-nakutinya agar menyerah atau tunduk pada negoisasi yang dilakukan.

Meski demikian, Mark Cancian, seorang ahli militer dengan Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) di Washington, mengatakan Rusia tidak akan menggunakan satu nuklir taktis saja untuk merebut wilayah seluas 32 km.

“Hanya menggunakan satu tidak akan cukup,” kata Cancian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rusia vladimir putin Ukraina Perang Rusia Ukraina

Sumber : Al Arabiya

Editor : Hesti Puji Lestari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top