Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Desain Istana Negara, Profesor ITB: Bagai Dicaplok Sosok Garuda

Citra istana yang gagah dan berwibawa iseolah-olah bangunannya dicaplok sosok garuda. Bangunannya harus eksis, enggak bisa dicaplok-caplok begitu
Newswire
Newswire - Bisnis.com 11 April 2021  |  02:50 WIB
Desain Istana Negara berlambang burung Garuda di Ibu Kota Negara (IKN) karya seniman I Nyoman Nuarta. - Twitter
Desain Istana Negara berlambang burung Garuda di Ibu Kota Negara (IKN) karya seniman I Nyoman Nuarta. - Twitter

Bisnis.com, BANDUNG - Kontroversi mewarnai munculnya desaian Istana Negara di lokasi calon ibu kota baru Indonesia.

Desain Istana Negara rancangan Nyoman Nuarta itu dikritik lima asosiasi profesi.

Selain mereka, Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Himasari Hanan pun menilai arsitektur Istana Garuda kurang pas. 

“Persoalannya bukan bentuk garudanya,” kata Himasari, Jumat, 9 April 2021 seperti diunggah Tempo.co, Sabtu 910/4/2021). 

Menurut dia, figur-figur yang ditempelkan di bangunan istana agak mengganggu untuk arsitek.

“Jadi bangunan itu seperti dikangkangi burung garuda, kan bangunan itu punya ekspresi sendiri apalagi istana,” ujar pengajar di Kelompok Keahlian Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur ITB itu.

Dicaplok Garuda

Himasari memberi ilustrasi istana negara di Amerika Serikat, Jerman, dan Prancis. Bangunan istana, kata Himasari, harus eksis tidak boleh ditunggangi bentuk-bentuk lain.

Pada desain Istana Garuda, dia menambahkan, citra istana yang gagah dan berwibawa itu seolah-olah bangunannya dicaplok sosok garuda.

"Itu, kalau menurut saya, dari segi arsitektur kurang pas. Bangunannya harus eksis dan punya ekspresi sendiri enggak bisa dicaplok-caplok begitu,” kata dia.

Himasari mengatakan, bentuk Istana Negara harus formal, bagus, monumental, gagah, berwibawa, andal, dan aman dari serangan teroris.

Balutan teknologi juga bisa menggambarkan kemajuan teknologi bangsa. “Bangunannya tahan lama, tidak membuat polusi, material berkualitas, lingkungannya hijau, dan halamannya luas,” ujarnya.

Pematung Nyoman Nuarta dan timnya merancang bangunan Istana Negara baru di Kalimantan Timur dengan bentuk burung garuda membentangkan sayap.

Alasan konsepnya itu karena garuda sudah jadi kesepakatan suku di Indonesia sebagai lambang negara.

"Saya tidak hanya sekadar estetika tapi unsur persatuan bangsa itu,” ujarnya Kamis 1 April 2021.

Dari video yang diunggah lewat akun media sosialnya pada akhir Maret 2021, desain bangunan Istana Negara itu dinyatakan sebagai karya terpilih sayembara gelaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk ibu kota baru.

Sebelum dikritik Himasari, sejumlah pihak terlebih dahulu melontarkan kritik atas desain Istana di Ibu Kota Baru tersebut.

Gedung Pendukung

Tak hanya desain Istana Negara, Himasari juga menyoroti penempatan gedung-gedung pendukung istana di bakal lokasi ibu kota baru RI di Kalimantan Timur.

”Bangunan pendukung itu tidak harus dalam satu bangunan dengan istana tapi sebuah rangkaian dalam kompleks yang terlihat menyatu,” kata Himasari.

Himasari merujuk kepada rancangan bentuk berbeda antara bangunan istana dengan gedung-gedung pendukungnya. Menurutnya, sebagai mitra dan staf Presiden, hubungan kerja itu seharusnya tercermin pula dalam sistem antar bangunan.

Himasari menambahkan penilaiannya terhadap kriteria dan tujuan rancangan 12 lokasi Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur itu seperti kurang matang.

Seharusnya, kata Himasari, sebelum perancangan dilakukan proses penjaringan masukan dari berbagai pihak hingga menjadi rumusan yang hebat.

Dia menyebut para pihak itu termasuk budayawan, insinyur, dan ahli lingkungan. Selanjutnya, arsitek yang akan menjawab dengan memberikan solusi dari tuntutan yang hebat itu.

Apa yang terjadi saat ini, menurut Himasari, permintaan yang hebat itu tidak dirumuskan dengan baik hingga yang bicara akhirnya adalah selera.

"Selera suka atau enggak suka. Padahal bagus atau enggak itu kan relatif,” katanya sambil menambahkan, "Persoalan suka dan tidak suka itu yang memunculkan kontroversi."

Lima Asosiasi

Kritik Himasari berbeda dengan kritik lima kelompok asosiasi profesi. Mereka adalah Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP).

Menurut mereka, desain pemenang sayembara terbatas yang digelar Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tersebut tidak merefleksikan kemajuan peradaban maupun ekonomi.

Di samping itu, desain Istana Negara juga disebut tidak menjadi contoh bangunan yang secara teknis sudah mencirikan prinsip pembangunan rendah karbon sejak perancangan, konstruksi hingga pemeliharaannya.

Nyoman Nuarta menanggapi kritik itu dengan menyatakan kesiapannya menjelaskan desain Istana Negara di bakal ibu kota baru dengan patung besar burung garuda itu.

“Katanya ada 5 asosiasi yang protes itu. Enggak usah lima, sepuluh [asosiasi protes] juga boleh,” kata Nyoman Nuarta, Kamis 1 April 2021.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

burung garuda istana negara ibu kota negara

Sumber : Tempo.co

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top