Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ada 'Tokoh Lain' di Balik Praktik Lancung Ekspor Benur

Masih ada sosok atau tokoh penting lainnya yang ikut dalam merancang praktik lancung ekspor benur yang kemudian menyeret eks Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo ke penjara.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 09 Januari 2021  |  22:59 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (tengah) berjalan menuju mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan korupsi ekspor benih lobster di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (26/11/2020) dini hari. KPK menetapkan tujuh tersangka dalam kasus dugaan korupsi tersebut, salah satunya yakni Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. - Antara
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (tengah) berjalan menuju mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan korupsi ekspor benih lobster di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (26/11/2020) dini hari. KPK menetapkan tujuh tersangka dalam kasus dugaan korupsi tersebut, salah satunya yakni Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) perlu mengungkap siapa saja pemain yang terlibat dalam praktik kongkalikong eksportasi benih lobster alias benur. 

Pasalnya, kuat dugaan ada sosok atau tokoh penting lainnya, yang terlibat dalam merancang praktik lancung ekspor benur yang kemudian menyeret eks Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo ke penjara.

Kecurigaan tentang tokoh-tokoh lain dalam perkara itu diungkapkan Koordinator Masyarakat Anti Korupsi (MAKI), Boyamin Saiman, saat berbincang di chanel Youtube milik wartawan senior, Karni Ilyas.

Boyamin menyatakan sosok tersebut berasal dari kalangan terpandang. Sosok itu ikut dalam pertemuan pada Mei 2020 lalu."Ini tokoh dari luar kementerian [KKP], saya menghormati dari sisi keilmuannya, lebih senior dan keilmuannya bukan di bidang ekonomi," kata Boyamin dikutip, Sabtu (9/1/2021).

Pertemuan yang dihadiri tokoh tersebut, kata Boyamin, dihadiri oknum pejabat KKP dan khusus membahas tentang pengangkutan ekspor benih lobster. Seperti diketahui, pengangkutan eksportasi benih lobster hanya dilakukan melalui satu pintu, yakni PT Aero Citra Kargo atau PT ACK.

PT ACK, menurut Boyamin, adalah perusahaan yang telah mati. Tetapi kemudian diambil alih oleh pejabat-pejabat di KKP, termasuk Edhy Prabowo, untuk memuluskan niat mengeruk keuntungan dari eksportasi benur. 

Sementara itu, pihak yang sebelumnya memiliki PT ACK, tak mempersoalkan pengambilalihan tersebut dan tetap menjalankan bisnis pengangkutanya di PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) seperti biasa.

"Ya udah diambil, Siswandi, pemiliknya tetap menjalankan logistiknya itu PT PLI dan biasa, selama ini sudah jalan forwardernya," jelasnya.

Singkat kata, karena ada yang ingin mengeruk keuntungan, maka PT ACK kemudian diambil, ongkos untuk pengiriman melonjak menjadi 1.800 per ekor. Sementara Siswandi kebagian Rp350. "Nah dari Rp350 per ekor itu, Siswandi dipotong Rp25 per ekor oleh oknumnya itu," jelasnya.

Data Bea Cukai menunjukkan dalam periode Juni -  November 2020 jumlah benih lobster yang telah diekspor sebanyak 43 juta ekor. Importir terbesar benih lobster asal Indonesia adalah Vietnam sebayak 42,18 juta ekor, 84.226 ekor benih diekspor ke Hongkong, dan sebanyak 20.185 ekor benih diekspor ke Taiwan.

Artinya jika harga angkut satu ekor lobster senilai Rp1.800, jumlah pemasukan yang didapatkan oleh PT ACK  bisa mencapai Rp77,4 miliar dari ekpsor tersebut. Itu hanya dari ongkos pengangkutan saja.

"Semoga ini didalami KPK, supaya foto tokoh ini bisa clear lah, kalau soal foto dan dokumen gampang," jelas Boyamin.

Dalam dokumen Kementerian Hukum dan HAM, diketahui PT ACK berlokasi di Great Western Resort Blok AA2 No.22, Kota Tangerang, Banten. PT ACK memiliki modal  dasar senilai Rp4 miliar dengan jumlah saham sebanyak 4 juta lembar. 

Sementara modal yang ditempatkan sebanyak 1 juta saham dengan nilai Rp1 miliar atau harga per lembar saham sebanyak Rp1.000.

Posisi Direktur Utama PT ACK dijabat oleh Amri dengan penguasaan saham senilai Rp416,5 juta. Jumlah saham serupa juga dimiliki oleh Achmad Bahtiar yang menjabat sebagai komisaris. Dua orang ini diduga sebagai nominee dari eks Menteri KKP Edhy Prabowo.

Selain keduanya, pemegang saham lain yang tercatat sebagai pemegang saham dalam dokumen tersebut adalah Yudi Surya Atmaja dengan total kepemilikan sebanyak 167.000 lembar saham atau Rp167 juta. Sementara Lutpi Ginanjar yang tercatat sebagai direktur tak memiliki saham sepersenpun di PT ACK.

Jawaban PLI

Sementara itu, pihak PLI dalam surat jawabannya kepada Bisnis belum lama ini menegaskan PT Aero Citra Kargo memiliki badan hukum tersendiri dan tidak memiliki hubungan kepemilikan dengan PT Perishable Logistics Indonesia.

Hubungan PT Aero Citra Kargo dan PT Perishable Logistics Indonesia terjadi berdasarkan Perjanjian Kerjasama Nomor: 400201/39/AGR/ACK-PLI/VI/2020 yang ditandatangani pada tanggal 11 Juni 2020.

PT Aero Citra Kargo selaku perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengurusan transportasi menunjuk PT Perishable Logistics Indonesia untuk membantu proses pengurusan dan pengiriman ekspor barang benih lobster.

Adapun penentuan harga jasa hingga mekanisme teknis pengiriman barang benih lobster telah ditentukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dan PT Aero Citra Kargo. Sehingga PT Perishable Logistics Indonesia sebatas menjalankan perintah tersebut. 

PT Perishable Logistics Indonesia adalah salah satu lini bisnis PT Anugerah Tangkas Transportindo yang kemudian lebih dikenal sebagai ATT Group, perusahaan lokal yang memberikan layanan logistik nasional-internasional terpadu bersertifikasi internasional dengan penerapan prinsip Good Corporate Governance.

Adapun, sengkarut soal ekspor benur bermula pada 14 Mei 2020. Saat itu  Edhy Prabowo menerbitkan Surat Keputusan Nomor 53/KEP MEN-KP/2020 tentang Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster.

Surat keputusan tersebut menunjuk Andreau Pribadi Misata selaku staf khusus Menteri juga sebagai Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) dan Safri sebagai Staf Khusus Menteri sekaligus menjabat selaku Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence). 

Salah satu tugas dari tim ini adalah memeriksa kelengkapan administrasi dokumen yang diajukan oleh calon eksportir benur

Selanjutnya, pada awal bulan Oktober 2020, Suharjito selaku Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama (DPP) datang ke kantor KKP di lantai 16 dan bertemu dengan Syafri, staf khusus Menteri KKP.

"Dalam pertemuan tersebut, diketahui bahwa untuk melakukan ekspor benih lobster hanya dapat melalui forwarder PT ACK (Aero Citra Kargo) dengan biaya angkut Rp1800/ekor," ungkap Wakil Ketua KPK Nawawi Pamolango dalam konferensi pers, Rabu (25/11/2020).

Untuk memperlancar eksportasi benih lobster tersebut, PT DPP diduga menransfer sejumlah uang ke rekening PT ACK dengan total Rp731,5 juta. 

KPK juga menemukan uang yang masuk ke rekening PT ACK yang diduga berasal dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster tersebut, selanjutnya ditarik dan masuk ke rekening Amri dan Ahmad Bahtiar masing-masing dengan total Rp9,8 miliar. 

Tak hanya itu pada tanggal 5 November 2020, diduga terdapat transfer dari rekening Ahmad Bahtiar ke rekening salah satu bank atas nama Ainul Faqih selaku staf khusus istri menteri Edhy sebesar Rp3,4 miliar yang diduga untuk keperluan Edhy Prabowo, istrinya IIs Rosyati Dewi, Syafri, dan Andreu Pribadi Misata.

Sejauh ini Bisnis belum berhasil menemukan kontak pihak-pihak yang terkait dengan PT ACK, termasuk PT PLI yang disebut oleh KPK memiliki peran dalam pembentukan PT ACK. 

Sementara itu pihak Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) memastikan bahwa dari sisi administrasi, eksportasi benih lobster sudah memenuhi ketentuan. Termasuk keberadaan PT ACK yang merupakan perusahaan ekspedisi yang mengangkut benih lobster ke luar negeri.

"Biasanya kalau sudah melakukan ekspor itu tercatat di sistem kita," kata Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga DJBC Syarif Hidayat melalui seorang stafnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

KPK korupsi edhy prabowo
Editor : Edi Suwiknyo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top