Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Inggris Bersiap Melenggang Tanpa Kesepakatan Dagang

Perdana Menteri Boris Johson hari ini berencana memberi tahu Uni Eropa bahwa Inggris bersedia meninggalkan blok ekonomi itu tanpa perjanjian daripada berkompromi tentang prinsip inti dari Brexit. Dia menetapkan tenggat waktu hingga 15 Oktober untuk kesepakatan.
Aksi protes anti-Brexit menggelar unjuk rasa di luar Gedung Parlemen di London, Inggris (30/1/2020). Reuters
Aksi protes anti-Brexit menggelar unjuk rasa di luar Gedung Parlemen di London, Inggris (30/1/2020). Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Jelang tenggat masa transisi, Inggris tengah bersiap menghadapi kegagalan perundingan Brexit dengan Uni Eropa.

Para pejabat Inggris kini tengah menyusun rancangan undang-undang yang disebut menjadi opsi jika perundingan dagang dengan UE gagal. Meski disiapkan sebagai langkah cadangan, hal itu berpotensi merusak proses perundingan yang masih berlangsung dan pekan ini akan memasuki putaran ke delapan di London. Namun tampaknya perundingan putaran baru itu tidak akan memberikan terobosan baru.

Sementara itu, Perdana Menteri Boris Johson hari ini berencana memberi tahu Uni Eropa bahwa Inggris bersedia meninggalkan blok ekonomi itu tanpa perjanjian daripada berkompromi tentang prinsip inti dari Brexit. Dia menetapkan tenggat waktu hingga 15 Oktober untuk kesepakatan.

Rancangan Undang-Undang Pasar Internal dirancang untuk melemahkan kekuatan hukum dari kesepakatan yang ditandatangani dengan UE tahun ini pada berbagai masalah termasuk bantuan negara dan bea cukai di Irlandia Utara.

Menurut sebuah sumber, RUU diperkirakan akan terbit Rabu pekan ini dengan tujuan memastikan kelancaran perdagangan antara empat negara bagian Inggris dan menghindari tarif antara Irlandia Utara dan daratan setelah Brexit.

Jika kesepakatan baru tidak tercapai, perdagangan Inggris dan UE kemungkinan akan diwarnai antrian panjang yang kacau di perbatasan dan tarif baru yang mahal untuk barang-barang.

Namun bagi Johnson, yang memimpin kampanye pro-Brexit pada 2016, kesepakatan yang buruk tidak lebih baik dibandingkan dengan tak adanya kesepakatan sama sekali. Dia akan mengatakan Inggris siap untuk meninggalkan masa transisi tanpa kesepakatan.

"Masih ada kesepakatan yang harus dicapai, tetapi kami tidak bisa dan tidak akan berkompromi pada dasar-dasar tentang apa artinya menjadi negara merdeka untuk mendapatkannya," kata Johnson dilansir Bloomberg, Senin (7/9/2020).

Seorang diplomat Eropa yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan konsultasi informal menjelang pembicaraan minggu ini tidak menghasilkan perubahan posisi. Adapun diplomat kedua mengatakan pandangan di Brussel adalah bahwa ada pertarungan antara realis dan ideolog Brexit di pemerintah Inggris dan tidak pasti pihak mana yang akan menang.

Sementara itu, jika tidak tercapai kesepakatan dagang hingga 31 Desember mendatang, Inggris akan kembali ke ketentuan yang ditetapkan Organisasi Perdagangan Dunia. Itu berarti kembalinya tarif dan kuota tertentu, serta dokumen tambahan untuk bisnis.

Meskipun pemerintah Inggris menggambarkannya sebagai perjanjian gaya Australia, hasil itu ditakuti oleh bisnis Inggris yang memperingatkan gangguan parah pada rantai pasokan tepat pada waktu yang penting.

Johnson akan mengatakan bahwa jika tidak ada kesepakatan, Inggris akan siap untuk menemukan akomodasi yang masuk akal pada masalah praktis, termasuk penerbangan, pengangkutan, dan kerja sama ilmiah.

Kedua belah pihak telah menemui jalan buntu selama berbulan-bulan karena bantuan negara dan perikanan. UE berusaha untuk menjaga akses yang saat ini dimiliki nelayannya ke perairan Inggris untuk melindungi pekerjaan dan komunitas pesisir. Sementara Inggris menginginkan pengurangan akses untuk kapal UE dan membuatnya bersyarat pada negosiasi reguler.

Mengenai bantuan negara, pemerintah Johnson menginginkan kebebasan untuk menentukan arahnya sendiri, sementara UE menuntut untuk mengetahui apa yang direncanakan pemerintah Inggris untuk memastikan persaingan yang adil.

Para negosiator telah menjadwalkan delapan jam pembicaraan tentang kedua masalah tersebut minggu ini.

Pada Minggu, 6 September 2020, Menteri Luar Negeri Dominic Raab menuduh blok ekonomi tersebut mencoba merusak keputusan Brexit Inggris dengan menjaganya tetap terikat pada aturan pasar tunggal UE.

"Minggu ini adalah momen penting bagi UE untuk benar-benar secara efektif mengakui bahwa dua poin prinsip tersebut bukanlah sesuatu yang dapat kami tawar-menawar itulah alasan utama kami meninggalkan UE," kata Raab.

Dia mengatakan masalah bantuan negara adalah titik prinsip untuk Inggris daripada indikasi bahwa pemerintah sedang mempersiapkan intervensi besar.

Ada pesimisme di Brussel tentang prospek terobosan, karena Brexit tidak ada dalam agenda KTT Uni Eropa 24 September mendatang.

Michel Barnier, negosiator tertinggi blok itu mengatakan pekan lalu bahwa dia khawatir dan kecewa dengan keadaan pembicaraan saat ini. Menurutnya Inggris perlu mengubah posisinya untuk mencapai kesepakatan.

Uni Eropa juga membalas laporan di media Inggris yang mengungkapkan bahwa Barnier dikesampingkan dalam upaya untuk mendorong perjanjian perdagangan.

Kedua belah pihak bahkan berselisih tentang cara bernegosiasi. UE menuntut kemajuan dalam semua masalah dan Inggris mencari kesepakatan awal tentang poin-poin yang tidak terlalu diperdebatkan untuk membangun momentum menuju kesepakatan akhir.

Sementara itu, menjelang pertemuan, kepala negosiator Inggris, David Frost, memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan menyerah dan membandingkan pendekatan tegas Johnson dengan pendahulunya, Theresa May. Pejabat Inggris itu juga berulang kali mengeluh tentang posisi UE.

"Banyak hal yang kami coba lakukan tahun ini adalah membuat mereka menyadari bahwa kami bersungguh-sungguh dengan apa yang kami katakan dan mereka harus mempertimbangkan posisi kami dengan serius,” kata Frost.

Kebuntuan terjadi di tengah peringatan dari bisnis Inggris, terutama industri pengangkutan, tentang kemampuan Inggris untuk mengurangi gangguan di pelabuhan.

Raab mengatakan bahwa perencanaan sebelumnya untuk Brexit tanpa kesepakatan dan langkah-langkah yang diberlakukan selama pandemi virus corona telah menempatkan Inggris di posisi yang lebih kuat untuk menangani risiko.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Reni Lestari
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper