Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Waduh, Makin Banyak Peritel Bangkrut di AS

Dalam 5 pekan terakhir, sudah 10 perusahaan ritel mengajukan dokumen kepailitan.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 04 Agustus 2020  |  09:49 WIB
Lapangan parkir Lord & Taylor di Paramus, New Jersey, yang kosong - Bloomberg
Lapangan parkir Lord & Taylor di Paramus, New Jersey, yang kosong - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Peritel yang bangkrut di Amerika Serikat diperkirakan terus bertambah selama masa pandemi belum berakhir. Tren saat ini, setiap minggu selalu ada saja perusahaan peritel yang mengajukan dokumen kebangkrutan.

Pada akhir pekan lalu, misalnya, pemilik merek Men’s Wearhouse yaitu Tailor Brands Inc. dan pusat perbelanjaan Lord & Taylor mengajukan dokumen kepailitan Chapter 11. 

Selanjutnya, unit peritel asal Kanada yaitu Chico’s FAS Inc. juga mengumumkan kebangkrutan pada 31 Juli 2020. 

Sepekan sebelumnya, induk usaha Ascena Retail Group Inc. yang membawahi Ann Taylor dan Lane Bryant yang mengajukan kebangkrutan.

Bloomberg mencatat setidaknya 25 peritel utama di AS telah mengajukan dokumen kebangkrutan sejak awal tahun. Adapun, 10 di antaranya mengajukan kebangkrutan dalam 5 pekan terakhir.

Analis BMO Capital Markets Simeon Siegel mengatakan pemicu utama kebangkrutan peritel di Negeri Paman Sam adalah persoalan utang.

“Pada titik ini, semua orang memiliki utang. Semua orang juga akan mencari likuiditas,” katanya seperti dikutip Bloomberg, Selasa (4/8/2020).

Adapun tren kebangkrutan peritel di AS mulai terjadi sejak pertengahan Maret ketika Pemerintah memutuskan untuk menutup sementara aktivitas sosial dan ekonomi (lockdown) untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Kendati beberapa pekan terakhir perekonomian AS telah dibuka kembali, tampaknya hal itu tidak cukup untuk mendorong gairah di industri peritel.

Peritel pun kini tak lagi memedulikan musim panas yang biasanya menjadi masa-masa puncak penjualan. Perusahaan peritel lebih dipusingkan oleh upaya memangkas beban operasional dan pilihan penutupan toko sembari meraba-raba apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Dari seluruh jenis peritel, tampaknya toko penjual pakaian menjadi yang paling terpukul. Berdasarkan data unit riset S&P Global Market Intelligence, Panjiva, penjualan pakaian turun 30 persen pada Juni walaupun penjualan ritel keseluruhan di AS meningkat pada awal musim panas. 

Dua perusahaan penjual denim yaitu G-Star Raw dan Lucky Brand bangkrut pada hari yang sama awal bulan lalu. Selanjutnya, J.C Penney Co., Neiman Marcus Group, J. Crew Group Inc. dan Brooks Brothers telah lebih dulu mengajukan Chapter 11 pada awal tahun ini.

Selanjutnya, Coresight Research memperkirakan sebanyak 25.000 toko ritel di AS akan tutup pada 2020, sebagian besar dikhawatirkan adalah pusat perbelanjaan dan mal.

Analis Coresight Research Deborah Weinswig sebelumnya mengatakan tren kebangkrutan ini bisa berubah tergantung dengan kondisi pandemi dan keberhasilan regulator mencapai kesepakatan untuk mengurangi tingkat pengangguran.

“Jika musim liburan masih sama saja [tidak ada perbaikan konsumsi], kita akan masuk ke dalam dunia penuh masalah. Harapannya pada liburan dengan versi new normal,” kata Weinswig.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat ritel
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top