Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bank Of Israel Serahkan Kepemimpinan Penanganan Covid-19 ke Pemerintah

Bank of Israel sedang bersiap untuk menyerahkan kepemimpinan dalam merespon pandemi Covid-19 ke otoritas fiskal setempat.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 25 Mei 2020  |  13:52 WIB
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu (ketiga kanan) bertepuk tangan di belakang Presiden AS Donald Trump (bawah kiri) yang menunjukkan dokumen pengakuan AS atas kedaulatan Israel di Dataran Tinggi Golan dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih, Washington, AS, Senin (25/3/2019). - Reuters/Carlos Barria
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu (ketiga kanan) bertepuk tangan di belakang Presiden AS Donald Trump (bawah kiri) yang menunjukkan dokumen pengakuan AS atas kedaulatan Israel di Dataran Tinggi Golan dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih, Washington, AS, Senin (25/3/2019). - Reuters/Carlos Barria

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank of Israel sedang bersiap untuk menyerahkan kepemimpinan dalam merespon pandemi Covid-19 ke otoritas fiskal setempat.

Sebelumnya, Bank of Israel memimpin negara dalam upaya merepson penanganan Covid-19. Namun, Bankir sentral saat ini mendesak pemerintah untuk mendukung pemulihan seiring dengan rencana untuk mencabut pembatasan dan membuka kegiatan ekonomi.

Pada puncak pandemi yang mulai terjadi Maret 2020, bank sentral Israel telah meluncurkan langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya yakni pembelian obligasi penerintah senilai 50 miliar shekel atau US$14,2 miliar.

Beberapa minggu kemudian, Bank Israel memotong biaya pinjaman ke posisi terendah sepanjang masa, meluncurkan alat-alat baru, dan bahkan membuka kemungkinan untuk melakukan pemotongan suku bunga lebih jauh.

Analis yang disurvei oleh Bloomberg masih mengharapkan komite moneter untuk mempertahankan suku bunga utamanya pada 0,1%.

Gubernur Bank Of Israel Amir Yaron mengatakan pihaknya tidak mengharapkan pemulihan berbentuk V, yakni dengan aktivitas ekonomi menetap di tingkat yang lebih rendah setelah krisis. Pengangguran pun diperkirakan sekitar 5% pada akhir 2021, lebih tinggi dari tingkat pra-krisis 3,3%.

Menurutnya, proyeksi tersebut masih tergantung pada seberapa lama krisis terjadi. Namun, yang dapat dipastikan, otoritas moneter telah meninggalkan ruang untuk kemungkinan pelonggaran lebih lanjut.

Setelah pertemuan terakhir pada April 2020, bank sentral mengisyaratkan akan memikirkan kembali keengganannya untuk mendorong biaya pinjaman di bawah nol. Mantan Kepala Bank Israel Karnit Flug mengatakan negara perlu mengambil langkah yang memungkinkan orang-orang kembali bekerja.

"Dan tentang kebijakan fiskal itu berarti kebijakan ekspansif," katanya seperti dikutip lewat Bloomberg, Senin (25/5/2020).

Ekonom pun menyerukan Menteri Keuangan baru Israel Katz untuk fokus pada penanganan pengangguran dan belanja infrastruktur untuk mendorong pemulihan. Sebagai upaya meredam pukulan terhadap ekonomi, para pejabat pemerintah telah menyetujui bantuan fiskal ke sekitar 100 miliar shekel.

Kepala Penasihat Ekonomi untuk Bank Hapoalim dan Profesor Ekonomi di Universitas Tel Aviv Leo Leiderman mengatakan Bank Sentral sebaiknya hanya menjadi pendamping dalam proses kebijakan fiskal tersebut. "Fokus utama perhatian akan menjadi anggaran dan kebijakan fiskal," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

israel Virus Corona covid-19
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top