PKS Daftarkan Politisi Demokrat Sebagai Bacaleg di Kepri

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendaftarkan Wan Norman Edi, anggota Fraksi Demokrat DPRD Provinsi Kepulauan Riau sebagai bakal caleg pada Pemilu 2019.
Newswire | 20 Juli 2018 15:43 WIB
Ilustrasi: Suasana pendaftaran bakal calon legislatif di KPU yang masih sepi, Selasa (10/7/2018). - Bisnis/Jaffry Prabu Prakoso

Bisnis.com, TANJUNGPINANG - Fenomena politisi dari satu partai politik dicalonkan oleh parpol lain mewarnai penyusunan bakal calon anggota legislatif pada Pileg 2019.

Belakangan muncul isu tentang tranfer caleg dengan nilai transfer fee miliaran. Pada kasus lain, seperti terjadi di Kepulauan Riau, politisi partai Demokrat dicalonkan oleh PKS. Pencalonan ini, menurut politisi yang bersangkutan, dilatari keinginan pengurus parpol tersebut membantu dirinya.

Seperti diberitakan Antara, Jumat (20/7/2018) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendaftarkan Wan Norman Edi, anggota Fraksi Demokrat DPRD Provinsi Kepulauan Riau sebagai bakal caleg pada Pemilu 2019.

Wan Norman yang dihubungi di Tanjungpinang, Jumat (20/7/2018), membenarkan dirinya terdaftar sebagai bakal caleg DPRD Kepri dari PKS.

"Namun saya masih kader Demokrat, saya belum mengundurkan diri dari Demokrat," katanya pula.

Wan Norman mengatakan PKS mendaftarkan dirinya sebagai bakal caleg untuk Daerah Pemilihan Kepri 7 (Natuna-Kepulauan Anambas) setelah mengetahui dirinya tidak didaftarkan Partai Demokrat sebagai bakal caleg.

"Saya baru mengetahui tidak terdaftar sebagai bakal caleg dari Demokrat pada hari terakhir pendaftaran bakal caleg. Kemudian, Ketua Fraksi Keadilan Sejahtera DPRD Kepri Ing Iskandarsyah ingin membantu saya. Saya terima bantuan itu, meski belum keluar dari Partai Demokrat," katanya lagi.

Wan Norman memberi apresiasi kepada PKS maupun anggota DPRD Kepri lainnya yang merasa prihatin terhadap dirinya dan berupaya membantu.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada PKS, terutama kepada Iskandarsyah yang berjuang untuk memasukkan namanya sebagai bakal caleg.

"Tentu kepedulian teman-teman di DPRD Kepri sangat saya hargai, terutama yang berjuang memberikan kendaraan politik kepada saya untuk menjadi caleg," ujarnya pula.

Wan Norman mengaku berada dalam kondisi yang sulit. Sampai sekarang ia kesulitan mengambil sikap politik.

Pindah partai bukan hal yang mudah. Apalagi, ia merasa kader tulen Demokrat yang belum pernah pindah partai. Wan Norman mengaku menjadi kader partai berlambang mercy itu sejak tahun 2007 atau sejak awal Demokrat dibangun di Natuna dan Anambas.

"Ya benar, saya dalam kondisi galau. Saya masih berjuang," katanya lagi.

Wan Norman masih bertekad untuk berjuang meski mengetahui keputusan yang diharapkan kecil kemungkinan diperolehnya.

"Saya belum melengkapi berkas persyaratan sebagai bakal caleg. Berharap ada harapan, ada hal yang baik," katanya lagi.

Sebelumnya, Sekretaris DPD Partai Demokrat Kepri Husnizar Hood mengakui Wan Norman tidak didaftarkan sebagai bakal caleg DPRD Kepri untuk Dapil Natuna-Anambas, dengan alasan pengurus DPC Demokrat Natuna dan Anambas tidak menginginkan Wan Norman.

Wan Norman dinilai tidak memberi kontribusi kepada partai. Wan Norman juga tidak terlalu banyak mendapatkan suara atau dukungan dari Natuna dan Anambas pada Pemilu 2014.

Wan Norman menjadi anggota DPRD Kepri karena menggantikan anggota Fraksi Demokrat yang terjerat kasus hukum.

"Saya dua kali menjaring aspirasi ke Natuna-Anambas. Hasilnya, pengurus di sana menginginkan orang lain yang dicalonkan," ujarnya pula.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pemilu 2019, pileg 2019, transfer caleg

Sumber : Antara
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top