Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SABDA RAJA: Mendagri Tolak Halus Permintaan Intervensi

Kontroversi Sabda Raja Keraton Yogyakarta terus bergulir hingga melibatkan pemerintah sebagai pihak penengah.
Lavinda
Lavinda - Bisnis.com 13 Mei 2015  |  10:14 WIB
Sri Sultan Hamengkubuwono - Antara
Sri Sultan Hamengkubuwono - Antara

Kabar24.com, JAKARTA— Kontroversi sabda Raja Keraton Yogyakarta terus bergulir hingga melibatkan pemerintah sebagai pihak penengah. Adik Sultan Hamengku Buwono X yang tak sepakat dengan sabda itu menyambangi Kementerian Dalam Negeri untuk meminta dibatalkan.

Menanggapi hal itu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengaku menolak secara halus saat diminta untuk mengintervensi persoalan kepemimpinan yang mendera Daerah Istimewa Yogyakarta.

 “Kami sudah menolak halus saat diminta oleh adik sultan untuk intervensi,”ujarnya, Selasa(12/5/2015).

 Menurut dia, pemerintah tidak bisa ikut campur dalam persoalan provinsi yang satu-satunya yang bertitel daerah istimewa di Pulau Jawa tersebut. Pasalnya, Yogyakarta memiliki struktur kepemimpinan yang berbeda dengan daerah lain.

“Ingat Yogyakarta itu ada keistimewaan. Sultan, ya raja sultan yang bertanggung jawab,”jelasnya.

 Kendati demikian, dia mengaku terus mengamati perkembangan yang terjadi di daerah tengah Pulau Jawa tersebut dengan menunggu laporan resmi dari DPRD dan pemerintah Yogyakarta.

Beberapa waktu lalu, Sultan Hamengkubuwono X mengeluarkan sabd yang mengubah beberapa poin, di antaranya menghilangkah gelar kalifatullah dan mengubah nama Hamengkubuwono menjadi Hamengkubawono.

Beberapa hari setelahnya, Sultan mengeluarkan perintah yang mengganti gelar anak pertamanya, GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, yang selama ini diperuntukkan untuk putera mahkota.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sabda Raja
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top