Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

AS Kucurkan Bantuan Militer untuk Ukraina Senilai Rp38,83 Triliun

Amerika Serikat (AS) mengucurkan bantuan militer senilai US$2,6 miliar atau Rp38,83 triliun untuk Ukraina.
Seorang prajurit Ukraina duduk di atas tank di tengah invasi Rusia ke Ukraina, dekat kota timur Bakhmut yang dibom, di wilayah Donetsk timur, Ukraina, 2 April 2023. REUTERS/Violeta Santos Moura
Seorang prajurit Ukraina duduk di atas tank di tengah invasi Rusia ke Ukraina, dekat kota timur Bakhmut yang dibom, di wilayah Donetsk timur, Ukraina, 2 April 2023. REUTERS/Violeta Santos Moura

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat (AS) mengucurkan bantuan militer senilai US$2,6 miliar atau Rp38,83 triliun untuk Ukraina.

Melansir dari Reuters, Pentagon (Departemen Pertahanan AS) mengatakan, bantuan-bantuan militer itu terdiri dari tiga radar pengawasan udara, roket anti-tank serta truk bahan bakar.

Paket bantuan tersebut juga mencakup amunisi tambahan untuk pertahanan udara NASAMS yang telah diberikan AS dan sekutunya kepada Kyiv.

Kemudian, amunisi udara presisi, roket GRAD era Soviet, sistem penghubung lapis baja, serta pendanaan untuk pelatihan dan pemeliharaan alat militer.

Segmen paket itu termasuk setengah lusin jenis amunisi, termasuk amunisi untuk sistem pertahanan udara Patriot, amunisi tank, dan Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS).

Paket bantuan ini sebagian besar berasal dari pendanaan Prakarsa Bantuan Keamanan Ukraina (USAI) yang memungkinkan pemerintahan Presiden Joe Biden untuk secara langsung membeli senjata dari industri tanpa harus mengambil stok persenjataan AS.

Total, ada US$2,1 miliar paket bantuan yang berasal dari dana tersebut.

Sisanya senilai US$500 juta, berasal dari dana Otoritas Penarikan Presiden yang memungkinkan presiden untuk mengambil dana dari saham AS saat dalam keadaan darurat.

Keputusan AS untuk kembali mengirimkan bantuan kepada Ukraina tentu mendapatkan respons positif dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Zelensky menilai bahwa kerja sama yang dijalin antar kedua negara ini memungkinkan untuk memperbaiki kondisi ekonomi di AS serta meningkatkan kemampuan keamanan negara yang dipimpin oleh Presiden Joe Biden itu.

Dia meminta agar Biden dan jajarannya untuk tidak menunda pengiriman bantuan ke Ukraina dan segera memanfaatkan waktu yang ada.

"Orang Ukraina bertindak agar orang AS tidak perlu berperang dan bersama-sama kita mendapatkan kekuatan baru untuk negara kita," ujarnya melalui tautan video, Selasa (4/4/2023).

Di sisi lain, pengiriman bantuan ini justru ditentang oleh Kedutaan Besar Rusia di Washington. Mereka menuduh bahwa AS ingin memperpanjang konflik untuk waktu yang selama mungkin.

Keputusan untuk kembali memasok senjata Kyiv, ujarnya, adalah awal dari meningkatnya krisis dan jumlah korban sipil di Ukraina.

Seperti diketahui, Ukraina juga telah memperoleh bantuan militer berupa tank tempur Leopard 2 dari Jerman dan Portugal. Paket bantuan ini juga mencakup 61 tanker bahan bakar berat dan kendaraan pemulihan untuk membantu alat berat yang cacat seperti tank.

Sejauh ini, AS telah menjanjikan bantuan keamanan senilai lebih dari US$35,2 miliar ke Ukraina sejak invasi 24 Februari 2022.

Pada Senin (3/4/2023), Duta Besar Julianne Smith, perwakilan tetap AS untuk NATO, mengatakan bahwa Washington berharap agar Ukraina dapat mengajukan atau memulai serangan pada musim semi dalam beberapa minggu ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Nancy Junita
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper