Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bos Tentara Bayaran Berang! Tuding Petinggi Rusia Berkhianat dan Ludahi Wagner

Kepala tentara bayaran Rusia Yevgeny Prigozhin menuding tentara Rusia berkhianat karena merampas amunisi pejuang Wagner.
rnPendiri kelompok tentara bayaran Wagner Rusia Yevgeny Prigozhin terlihat di dalam kokpit pesawat pembom militer Su-24 di atas lokasi yang tidak diketahui, selama konflik Rusia-Ukraina. Gambar diambil dari rekaman selebaran yang dirilis 6 Februari 2023./Reutersrn
rnPendiri kelompok tentara bayaran Wagner Rusia Yevgeny Prigozhin terlihat di dalam kokpit pesawat pembom militer Su-24 di atas lokasi yang tidak diketahui, selama konflik Rusia-Ukraina. Gambar diambil dari rekaman selebaran yang dirilis 6 Februari 2023./Reutersrn

Bisnis.com, JAKARTA – Kepala tentara bayaran Rusia Yevgeny Prigozhin menuding tentara Rusia berkhianat karena merampas amunisi pejuang Wagner.

Melansir Reuters, Selasa (22/2/2023), bos tentara bayaran Grup Wagner itu menuduh Rusia berniat menghancurkan perusahaan militer pribadinya.

Kementerian pertahanan Rusia menolak tuduhan itu, dan menegaskan pihaknya tidak memblokir amunisi untuk tentara bayaran Wagner.

Prigozhin kemudian merilis pesan suara yang mengatakan bahwa: “Ini sama saja dengan meludahi Wagner.”

Dia kembali menegaskan bahwa anak buahnya sangat kekurangan persediaan. Seperti diketahui, Prigozhin mengambil peran banyak sejak perang Rusia vs Ukraina dimulai pada Februari 2022.

Grup Wagner miliknya mempelopori pertempuran untuk Kota Bakhmut di wilayah Donetsk, Ukraina, tetapi hubungannya dengan Moskow memburuk.

Tahun ini Prigozhin dicabut haknya untuk merekrut tahanan dan ada beberapa tanda Kremlin bergerak untuk mengekang pengaruhnya. Pada Selasa (21/2/2023), dia kehilangan kesabaran dan pada satu titik berteriak.

"Ada oposisi langsung yang terjadi (untuk upaya memperlengkapi pejuang Wagner)," katanya dalam pesan suara awal di saluran Telegramnya.

"Ini bisa disamakan dengan pengkhianatan tingkat tinggi.”

"Kepala staf umum dan menteri pertahanan memberi perintah kanan dan kiri, tidak hanya untuk tidak memberikan amunisi kepada Wagner PMC (perusahaan militer swasta), tetapi juga tidak untuk membantunya dengan transportasi udara," tuduh Prigozhin.

Kementerian Pertahanan Rusia bereaksi atas pernyataan itu, dan mengatakan para pejabat militer melakukan semua yang mereka bisa lakukan untuk memasok peralatan perang untuk para pejuang Wagner.

"Oleh karena itu, semua pernyataan yang diduga dibuat atas nama unit penyerangan tentang kekurangan amunisi sama sekali tidak benar," kata pihak Rusia tanpa menyebut nama Wagner.

"Upaya untuk membuat perpecahan dalam mekanisme interaksi dan dukungan yang erat antara unit-unit kelompok (pertempuran) Rusia adalah kontra-produktif dan bekerja semata-mata untuk kepentingan musuh."

Prigozhin juga mengatakan pejabat senior telah menolak permintaan sekop khusus untuk menggali parit.

Dia menuduh para petinggi memutuskan "orang harus mati ketika nyaman bagi mereka", dan mengatakan para pejuang Wagner "berjatuhan seperti lalat" karena tidak ada persediaan yang diperlukan.

Dalam pesan pada Senin (20/2/2023), dia mengeluh bahwa pejabat yang tidak disebutkan namanya menolak pasokan Wagner karena permusuhan pribadi terhadapnya, dan bahwa dia diminta untuk "meminta maaf dan patuh" untuk memperbaiki situasi.

Kementerian Pertahanan sebelumnya mengatakan Wagner tidak berada di bawah kendalinya meskipun milisi bergantung pada negara untuk beberapa senjata dan logistik.

Tatiana Stanovaya, Kepala Konsultan Politik R.Politik, mengatakan kemarahan Prigozhin tampak seperti "tindakan putus asa" yang ditujukan untuk "mendekati Putin".

Tidak jelas apakah dia memikirkan Prigozhin, tetapi Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (21/2/2023) dalam pidato kenegaraan mengatakan ingin mengakhiri pertikaian internal.

"Kita harus menyingkirkan - saya ingin menekankan ini - kontradiksi antardepartemen, formalitas, dendam, kesalahpahaman, dan omong kosong lainnya," katanya kepada elite politik dan militer.

Dalam unggahan terpisah, Prigozhin mengatakan dia terlalu sibuk untuk menonton pidato  Putin dan karena itu tidak bisa mengomentari pernyataan presiden.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nancy Junita
Editor : Nancy Junita
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper