Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PDIP Akan Menggelar Tabur Bunga Peringati Peristiwa Kudatuli

Kudatuli adalah peristiwa sejarah yang mengajarkan bahwa pemerintahan yang otoriter tidak akan tahan lama.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 21 Juli 2022  |  14:58 WIB
PDIP Akan Menggelar Tabur Bunga Peringati Peristiwa Kudatuli
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. JIBI - Bisnis/Nancy Junita
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (Sekjen DPP PDIP) Hasto Kristiyanto memastikan partai politiknya akan menggelar tabur bunga di Kantor DPP PDIP, Jakarta pada Rabu 27 Juli 2022.

Hasto mengatakan, acara tersebut digelar sebagai penghormatan kepada kader PDI yang telah menjadi korban peristiwa Kudeta Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) 1996.

"Kami akan mengadakan tabur bunga di kantor DPP PDI Perjuangan sebagai penghormatan kita kepada mereka yang telah menjadi korban," katanya ​saat dalam sambutan pada Diskusi Publik Memperingati 26 Tahun Peristiwa 27 Juli secara daring, Kamis (21/7/2022).

Hasto menekankan bahwa PDIP terus mengingat peristiwa itu, di mana Kudatuli adalah peristiwa sejarah yang mengajarkan bahwa pemerintahan yang otoriter tidak akan tahan lama. Bagaimana pemerintahan itu seharusnya dibangun oleh kekuatan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

"Karena itulah Ibu Mega, pesannya pada peringatan ini, mengingatkan agar dengan turun ke bawah, menyatu dengan kekuatan rakyat, menangis dan tertawa dengan rakyat, itu sejatinya memahami hakekat paling dasar kekuasaan politik yang berasal dari rakyat," katanya.

Sementara itu, Ketua DPP PDIP Ribka Tjiptaning menceritakan pengalamannya sebagai salah satu korban, apabila diibaratkan sebagai penyakit, kasus 27 Juli adalah penyakit kronis yang belum sembuh sampai sekarang.

Oleh sebab itu, dia meyampaikan baru saja ke kantor Komnas HAM bersama kurang lebih 300 orang untuk meminta penjelasan soal penyelesaian kasus itu.

"Sejarah harus tetap ditegakkan," ujarnya.

Baginya, Kudatuli adalah sejarah kelabu. Komnas HAM merilis resmi hanya 5 orang meninggal, padahal banyak yang hilang.

"Dulu saya pernah, ada seorang ibu-ibu yang sumbing. Melihat ada yang ditusuk bayonet. Ibu itu belakangan tidak ada lagi. Kemana? Ada juga teman saya hilang itu sampai sekarang tidak ketemu," kata Ribka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pdip kudatuli
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top