Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

PM Boris Johnson Mundur, Calon-Calon Pengganti Mulai ‘Gerilya’

Dua kandidat pengganti PM Boris Johnson, Mantan Menteri Kesehatan Sajid Javid dan Mantan Menteri Luar Negery Jeremy Hunt, mengusung rencana pemotongan pajak korporasi.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 10 Juli 2022  |  15:53 WIB
PM Boris Johnson Mundur, Calon-Calon Pengganti Mulai ‘Gerilya’
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berjalan usai memberikan pernyataan pers di halaman kantornya di Jalan Downing Nomor 10, London, Inggris, Kamis (7/7/2022). Boris Johnson menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, menyusul desakan dan seruan dari rekan-rekan menteri dan anggota parlemen di Partai Konservatifnya, seperti yang dilansir Kantor Berita Reuters Kamis (7/7) waktu setempat. - Antara/Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Perlombaan untuk menggantikan Boris Johnson sebagai Perdana Menteri Inggris semakin ramai, dengan para kontestan besar mulai mengambil langkah.

DIlansir Bloomberg pada Minggu (10/7/2022), Mantan Menteri Kesehatan Sajid Javid dan Mantan Menteri Luar Negery Jeremy Hunt mengambil kesempatan dalam wawancara di The Telegraph pada Sabtu (9/7) untuk mengumumkan kampanye mereka. Keduanya memiliki agenda kepemimpinan yang sama, yaitu pemotongan pajak.

Javid sebelumnya mundur dari Menteri Kesehatan pekan lalu dan memicu keputusan Johnson untuk mundur. Sementara itu, Jeremy Hunt sebelumnya yang kalah dari Johnson dalam pemilihan Perdana Menteri 2019 silam.

Dalam wawancara terpisah dengan surat kabar tersebut, mereka mengatakan akan membatalkan rencana kenaikan pajak perusahaan dan menguranginya menjadi 15 persen dari 25 persen. Sementara itu, Javid berjanji untuk mengurangi pajak pendapatan yang diperkenalkan oleh Menteri Keuangan Rishi Sunak.

Hunt, yang menolak tawaran Johnson untuk posisi kabinet pada 2019, berencana untuk menekankan posisinya sebagai orang di luar parlemen yang disebutnya “Boris bubble”.

Mereka bergabung dengan tujuh kandidat lain termasuk pengganti Sunak Nadhim Zahawi, Menteri Luar Negeri Liz Truss, Menteri Transportasi Grant Shapps dalam memperebutkan posisi teratas bersama Sunak.

Sementara itu, Penny Mordaunt, Menteri Perdagangan yang disebut-sebut sebagai salah satu favorit untuk menggantikan Johnson, justru absen dari daftar kontestan Perdana Menteri.

Partai Konservatif yang mengorganisir kontestasi berencana menyeleksi hingga tersisa dua calon utama sebelum Parlemen memasuki masa reses musim panas pada 21 Juli. Selama beberapa hari ke depan, perselisihan politik dan pribadi akan banyak terjadi.

Sementara itu, Johnson akan bertahan sampai penggantinya diumumkan, yang menurut partai akan dilakukan pada bulan September. Dia menunjuk pemerintah sementara yang dia tegaskan tidak akan membuat perubahan arah besar-besaran.

Komite 1922 anggota parlemen partai Konservatif sedang menyusun rencana untuk kontes kepemimpinan yang dipercepat. Setelah ada dua finalis utama, mereka akan memulai tur enam minggu di Inggris.

Setelahnya, lebih dari 100.000 anggota partai Konservatif akan memutuskan siapa yang mengisi posisi di 10 Downing Street sebagai Perdana Menteri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Boris Johnson pm inggris inggris
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top