Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PM Inggris Boris Johnson Ogah Mundur, meski Muncul Mosi Tidak Percaya

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson menegaskan, dirinya akan melawan segala upaya berbagai pihak yang ingin menurunkannya dari kursi pemerintahan.
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menghadiri KTT NATO di Madrid, Spanyol, pada Rabu (29/06/2022)./Antara-Reuters
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menghadiri KTT NATO di Madrid, Spanyol, pada Rabu (29/06/2022)./Antara-Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson menegaskan, dirinya akan melawan segala upaya berbagai pihak yang ingin menurunkannya dari kursi pemerintahan.

Dia menyatakan, meskipun mendapatkan mosi tidak percaya yang secara langsung diperlihatkan para menteri dan sejumlah pejabat parlemen lainnnya, tetapi dirinya menolak menyerahkan kekuasaan.

Dikutip melalui CBS News, hanya dalam kurang dari 24 jam, Boris Johnson secara resmi ditinggalkan 32 anggota parlemennya, termasuk di dalamnya adalah Menteri Keuangan, Rishi Sunak dan Menteri Kesehatan, Sajid Javid.

"Saya tak akan mundur dan hal terakhir yang diperlukan negara ini, terus terang, adalah pemilihan umum," kata Johnson di depan komite parlemen, Kamis (7/7/2022).

Dikutip melalui Independent, Johnson mengatakan bahwa dirinya berencana berjuang meskipun ada penurunan dukungan yang luar biasa. Bahkan, dia akan tetap pada isu-isu penting yang dihadapi oleh negara.

“Perdana menteri sedang bersemangat dan akan terus berjuang. Dia memiliki mandat 14 juta dan begitu banyak yang harus dilakukan untuk negara,” kata ajudan Johnson, James Duddridge, dikutip dari Independent, Kamis (7/7/2022).

Sumber yang dekat dengan perdana menteri mengatakan kepada The Independent bahwa dia bersikeras untuk tetap tinggal, meskipun dukungan untuk kepemimpinannya telah runtuh di parlemen, dan hampir 40 menteri serta ajudan telah mengundurkan diri dalam 24 jam.

Untuk diketahui, sejumlah skandal telah menghantam Pemerintahan PM Boris Johnson selama berbulan-bulan. Johnson sebelumnya dihantam skandal sejumlah pesta yang dilangsungkan saat penguncian ketat Inggris untuk meredam pandemi Covid-19.

Skandal itu pada akhirnya menghasilkan 126 denda, termasuk satu yang dikenakan terhadap Johnson.

Tidak hanya itu, kandidat Konservatif dipukuli habis-habisan dalam dua pemilihan khusus untuk mengisi kursi kosong di Parlemen, menambah ketidakpuasan di dalam partai Johnson.

Skandal terbaru Johnson dituding gagal berterus terang tentang seorang anggota parlemen yang diangkat ke posisi senior meskipun ada klaim pelanggaran seksual.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Akbar Evandio
Editor : Nancy Junita
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper