Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rusia Ancam NATO: Ganggu Krimea Berarti Perang Dunia 3!

Setiap gangguan di semenanjung Krimea oleh negara anggota NATO akan menjadi deklarasi perang terhadap Rusia dan dapat memicu Perang Dunia III.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 28 Juni 2022  |  08:55 WIB
Rusia Ancam NATO: Ganggu Krimea Berarti Perang Dunia 3!
Presiden Rusia Vladimir Putin (ki) dan Perdana Menteri Dmitry Medvedev berjalan sebelum sebuah pertemuan dengan anggota pemerintahan di Moskow, Rusia, Selasa (26/12/2017). - Sputnik

Bisnis.com, JAKARTA --Rusia mengirimkan sinyal keras terkait dengan peningkatan militer NATO di perbatasan negaranya.

Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev bahkan mengingatkan negara pakta pertahanan tersebut untuk tidak mengganggu wilayah Krimea. Sebab, menurutnya, setiap gangguan di semenanjung Krimea oleh negara anggota NATO akan menjadi deklarasi perang terhadap Rusia dan dapat memicu Perang Dunia III.

"Bagi kami, Krimea adalah bagian dari Rusia dan itu berarti selamanya. Segala upaya untuk mengganggu Krimea adalah deklarasi perang melawan negara kami," kata Medvedev kepada situs berita Argumenty seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Selasa (28/6/2022).

Dia mengingatkan negara anggota pakta pertahanan Atlantik utara itu bahwa jika pasukan NATO sampai masuk ke Krimea yang diambil oleh Rusia pada 2014 maka tindakan itu berarti Rusia berkonflik dengan seluruh anggota pakta tersebut. 

Dia menegaskan bahwa Perang Dunia III merupakan sebuah bencana total. Medvedev, yang sekarang menjadi ketua Dewan Keamanan Rusia, juga mengatakan bahwa jika Finlandia dan Swedia bergabung dengan NATO maka Rusia akan memperkuat perbatasannya. 

“Kami siap untuk langkah-langkah pembalasan dan dapat diperluas dengan pemasangan rudal hipersonik Iskander di depan pintu mereka," ujarnya.

Aneksasi Krimea yang sempat menjadi bagian Rusia selama 170 tahun, terjadi hanya dalam beberapa hari. "Krimea selalu merupakan bagian dari Rusia di hati dan pikiran penduduknya," ujar Putin tiga pekan setelah aneksasi seperti yang dikutip dari The New York Times.

Saat aneksasi tahun 2014, Rusia mengirimkan militernya untuk mengadakan referendum. Dilansir dari petinggi Rusia dan sumber-sumber media Krimea, 95% penduduk memilih reunifikasi dengan Rusia.

Hanya saja hingga saat ini, kebenaran referendum masih dipertanyakan oleh komunitas internasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nato Rusia krimea Perang Rusia Ukraina
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top