Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Oposisi Desak Presiden Sri Lanka Turun Jabatan karena Krisis yang Berkepanjangan

Masyarakat dan oposisi terus menyerukan #GoHomeGota untuk mendesak Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa turun dari jabatan.
Restu Wahyuning Asih
Restu Wahyuning Asih - Bisnis.com 05 April 2022  |  13:20 WIB
Sri Lankan saat pembatasan sosial selama pandemi Covid-19 - Bloomberg
Sri Lankan saat pembatasan sosial selama pandemi Covid-19 - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, SOLO - Masyarakat Sri Lanka meminta Presiden Gotabaya Rajapaksa untuk mengundurkan diri dari jabatan.

Masyarakat dan opisisi melakukan protes di jalanan dan melayangkan tulisan #GoHomeGota sebagai tanda mereka ingin pemerintahan Gotabaya untuk berhenti.

Protes yang menyebabkan kematian itu terjadi karena adanya krisis buruk yang terjadi di Sri Lanka. Negara kepulauan di Asia Selatan itu telah bergulat dengan krisis valuta asing dan kekurangan kebutuhan pokok selama berbulan-bulan.

Ketegangan meningkat setelah antrian makanan dan bahan bakar terus terjadi, hingga menyebabkan kematian.

Bahkan pemadaman listrik berlangsung selama beberapa jam dalam sehari, hal ini pun melumpuhkan banyak fasilitas termasuk fasilitas di rumah sakit.

Dalam beberapa hari terakhir, ratusan ribu orang menentang jam malam. Tentara pun diberi wewenang untuk menangkap warga sipil yang turun di jalan.

Kabinet mundur

Ketegangan yang meningkat selama beberapa hari membuat 26 menteri mengumumkan pengunduran diri mereka pada Minggu (3/4/2022).

Di sisi lain, masyarakat murka karena tak mendapat kepastian dari presiden Rajapaksa atau saudaranya Mahinda, yang merupakan perdana menteri.

Oposisi menolak ajakan gabung Gota

Rajapaksa kemudian menawarkan untuk berbagi kekuasaan dengan oposisi pada hari Senin (4/4). Ajakan itu pun mendapat penolakan tegas.

Sebelumnya, kantor presiden menyatakan "mengundang semua partai politik yang diwakili di parlemen untuk bersama-sama menerima portofolio menteri dalam rangka mencari solusi untuk krisis nasional".

Aliansi politik oposisi terbesar, Persatuan Kekuatan Rakyat atau  Samagi Jana Balawegaya (SJB), menolak proposal tersebut.

“Rakyat negara ini ingin Gotabaya dan seluruh keluarga Rajapaksa turun dan kami tidak dapat melawan kehendak rakyat dan kami tidak dapat bekerja bersama para koruptor,” kata pejabat tinggi SJB Ranjith Madduma Bandara seperti dikutip Aljazeera.com, Selasa (5/4).

1 dari 2 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

internasional sri lanka Gotabaya Rajapaksa
Editor : Restu Wahyuning Asih
Bagikan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top