Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perbedaan Yaumul Hisab dan Yaumul Mizan

Berikut ini perbedaan antara yaumul hisab dan yaumul mizan yang perlu diketahui.
Setyo Puji Santoso
Setyo Puji Santoso - Bisnis.com 24 Desember 2021  |  19:40 WIB
Patung Dewi Keadilan - Istimewa
Patung Dewi Keadilan - Istimewa

Bisnis.com, SOLO - Sebagai umat muslim wajib hukumnya menyakini akan adanya hari akhir atau khiamat.

Kewajiban tersebut seperti yang tercantum di dalam enam rukun iman, dimana salah satunya adalah iman kepada hari akhir.

Dikutip dari laman cendekia.kemenag.go.id, hari akhir atau kiamat merupakan hari berakhirnya kehidupan manusia di atas dunia, sekaligus merupakan awal dari kehidupan di akhirat untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan ketika hidup di dunia.

Ada beberapa nama hari akhir sebagai tahapan yang akan ditempuh oleh manusia untuk menerima balasan dari amal ibadahnya ketika di dunia. Di antaranya adalah yaumul hisab dan yaumul mizan. Lantas apa perbedaannya?

Yaumul hisab artinya hari perhitungan

Hari dihitungnya amal perbuatan manusia ketika hidup di dunia.

Hari itu manusia tidak bisa berdusta atas amal perbuatan yang pernah dilakukan di dunia. Mulut akan terkunci, yang berbicara tangan dan kaki yang menjadi saksinya.

Firman Allah Swt dalam Q.S. Yasin/36 : 65 sebagai berikut:

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

Yaumul mizan artinya hari penimbangan

Hari penimbangan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sewaktu di dunia yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami,” (QS Al-A‘raf [7]: 8-9).

Dalam hadits riwayat Ibnu Mas‘ud juga dijelaskan, setelah amal manusia saat hidup di dunia dihitung kemudian akan dilakukan penimbangan.

Bagi yang timbangan amal baiknya lebih berat maka akan masuk surga, sementara bagi orang yang amal buruknya lebih banyak maka akan masuk neraka.

Ibnu Mas‘ud berpesan, “Sesungguhnya seorang hamba, jika melakukan satu kebaikan, maka akan dicatat untuknya sepuluh kali lipat. Dan jika ia melakukan satu keburukan, maka akan dicatat untuknya satu kali lipatnya. Maka celakalah orang yang satu kali lipatnya mengalahkan sepuluh kali lipatnya"


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pendidikan
Editor : Setyo Puji Santoso

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top