Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Varian Baru Virus Corona Bermunculan, Bagaimana Produsen Vaksin Covid-19 Menyiasatinya?

Sejumlah produsen mengatakan vaksin Covid-19 yang mereka kembangkan seharusnya masih efektif terhadap straint baru, namun sejumlah peneliti memperingatkan perlu adanya pengembangan secara berkala untuk mempertahankan tingkat efikasi.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 25 Januari 2021  |  17:29 WIB
Vaksin Oxford dan AstraZeneca
Vaksin Oxford dan AstraZeneca

Bisnis.com, JAKARTA – Varian terbaru virus corona yang muncul di Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil menyebabkan kekhawatiran tersendiri, terutama pada efektivitas vaksin Covid-19 yang kini telah mulai didistribusikan.

Dilansir dari Bloomberg, sejumlah penelitian menunjukkan varian virus baru tersebut lebih menular. Beberapa bukti menunjukkan bahwa strain virus di Inggris lebih mematikan. Peningkatan infeksi Covid-19 telah menyebabkan lonjakan rawat inap dan kematian di Inggris serta negara lain.

Sejumlah produsen mengatakan vaksin Covid-19 yang mereka kembangkan seharusnya masih efektif terhadap straint baru, namun sejumlah peneliti memperingatkan perlu adanya pengembangan secara berkala untuk mempertahankan tingkat efikasi.

Varian virus corona yang disebut B117 yang muncul di Inggris pada September berkontribusi pada lonjakan kasus yang membuat Inggris kembali melakukan lockdown pada bulan Januari.

Sementara itu di Afrika Selatan, rumah sakit menghadapi tekanan dari kenaikan tingkat infeksi yang didorong oleh varian baru 501Y.V2. Peneliti Brasil memperingatkan bahwa varian P.1 yang terlihat di Manaus pada bulan Desember diperkirakan mendorong lonjakan kasus yang membebani sistem kesehatan dan menyebabkan kekurangan oksigen.

Mulai menyebarnya varian baru virus penyebab Covid-19 ini menimbulkan pertanyaan. Apakah vaksin saat ini masih efektif?

Studi juga menemukan bahwa varian baru mengikat lebih kuat terhadap sel manusia. Hal ini agaknya menjelaskan mengapa virus itu sekitar 50 persen lebih cepat menyebar dibandingkan versi sebelumnya, seperti yang dinyatakan oleh ahli epidemiologi Abdool Karim.

Varian Afrika Selatan yang disebut 501Y.V2 diidentifikasi oleh ahli genomik negara itu pada akhir tahun lalu. Saat ini, varian itu menjadi pendorong utama gelombang kedua infeksi virus corona, yang mencapai puncaknya pada awal tahun dengan 21.000 kasus harian baru.

Dilansir dari New York Post, Rabu (20/1/2021) Abdool Karim mengatakan bahwa studi serum penyembuhan menunjukkan antibodi alami yang ada dalam tubuh kurang efektif melawan varian anyar itu, tetapi varian baru tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Sementara itu, eksperimen di Rockefeller University menunjukkan bahwa varian baru termasuk B.1.1.7, 501Y.V2 dan P.1, dapat menegasi potensi vaksin Moderna Inc. dan Pfizer-BioNTech, menurut sebuah penelitian yang dirilis pada 19 Januari 2021 sebelum publikasi ulasan. Para peneliti sedang bekerja untuk mempelajari hal ini dengan lebih baik..

Lantas, apa langkah yang yang dilakukan para produsen vaksin Covid-19?

Mitra pengembangan vaksin Pfizer Inc., BioNTech SE, mengatakan hasil studi laboratorium yang dirilis pada pertengahan Januari menunjukkan bahwa sangat tidak mungkin bahwa strain virus Inggris dapat lolos dari vaksin mRNA yang mereka kembangkan. Meski begitu, BioNTech mengatakan siap untuk melakukan penyesuaian vaksin jika diperlukan.

Sebelumnya, CEO AstraZeneca Pascal Soriot mengatakan bahwa para peneliti yang mengembangkan vaksinnya telah menemukan formula khusus yang mampu melawan varian baru virus corona dan tentunya bersaing dengan vaksin buatan Pfizer.

Adapun University of Oxford yang bermitra dengan AstraZeneca mengatakan sedang mengevaluasi apa yang diperlukan guna dengan cepat menerapkan formula khusus tersebut untuk memerangi varian baru muncul jika diperlukan.

Mereka mengatakan perubahan vaksin tersebut biasa terjadi dan ini terjadi setiap tahun dengan flu musiman yang berkembang jauh lebih cepat daripada virus corona. Tidak seperti flu, virus corona memiliki mekanisme koreksi diri genetik yang meminimalkan terjadinya mutasi.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pfizer Vaksin Covid-19 Adaptasi Kebiasaan Baru AstraZeneca
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top