Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Balas Pajak Digital, AS Siapkan Daftar Tarif untuk Prancis

Pemerintah Amerika Serikat bermaksud mengumumkan respons lebih lanjut terkait pajak layanan digital Prancis atas perusahaan teknologi AS termasuk Amazon.com, Google, dan Facebook.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Juli 2020  |  06:37 WIB
App Drawer - Bloomberg
App Drawer - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat bermaksud mengumumkan respons lebih lanjut terkait pajak layanan digital Prancis atas perusahaan teknologi AS termasuk Amazon.com, Google, dan Facebook.

Menurut sumber terkait, daftar tarif yang akan dirilis bakal menyasar barang-barang dengan kisaran US$500 juta hingga US$700 juta. Respons yang ditargetkan dapat mencakup tarif pada anggur, keju, dan tas tangan asal Prancis.

Pengumuman itu kemungkinan akan disampaikan paling cepat pada Jumat (10/7/2020) waktu setempat. Sementara itu, ungkap salah satu sumber, implementasi tarif mungkin ditunda sampai Prancis mulai memungut pajaknya pada tahun ini.

Politico mengabarkan bahwa Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer telah mengisyaratkan tentang kemungkinan langkah semacam itu dalam suatu agenda pada Kamis (9/7/2020).

“Kami akan mengumumkan bahwa kami akan melancarkan sanksi tertentu terhadap Prancis, menangguhkannya seperti mereka menangguhkan pengumpulan pajak saat ini,” tulis situs web yang berbasis di Washington itu mengutip perkataan Lighthizer, seperti dilansir Bloomberg.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan bahwa dia dan Lighthizer telah menuntaskan tinjauan ekstensif sebelum batas waktu pada Jumat. Tinjauan ini dilakukan guna membuat keputusan yang didasarkan pada hasil penyelidikan bertajuk 'Section 301'.

Kendati demikian, menurut Mnuchin, mereka belum membahas masalah ini dengan Presiden Donald Trump guna memperoleh keputusan final.

Bulan lalu, AS menarik diri dari perundingan internasional mengenai kesepakatan pajak digital setelah gagal mencapai kesepakatan untuk mengembangkan retribusi global.

Pada saat itu, juru bicara Departemen Keuangan Monica Crowley mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa AS menyarankan "jeda dalam pembicaraan" sehingga pemerintah dapat fokus pada pandemi Covid-19 dan membuka kembali ekonomi mereka.

Sementara itu, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) telah berupaya menemukan kesepakatan di antara hampir 140 negara mengenai perombakan pajak global.

Upaya ini dilakukan untuk membahas bagaimana perusahaan-perusahaan multinasional, khususnya perusahaan teknologi besar, dikenakan pajak di negara-negara di mana mereka memiliki pengguna atau konsumen. Eksistensi sebuah kesepakatan internasional akan mencegah banyak negara menerapkan retribusi versi mereka sendiri.

Sejumlah negara Eropa, termasuk Austria, Prancis, Spanyol, Hongaria, Italia, Turki, dan Inggris, telah mengumumkan rencana untuk pajak layanan digital. Banyak negara lain juga telah membahas penerapannya.

Di sisi lain, AS mengancam tarif balasan terhadap negara manapun yang mengenakan pungutan terhadap pendapatan digital perusahaan AS. Tahun lalu, AS mempertimbangkan untuk menerapkan tarif pada produk-produk Prancis senilai sekitar US$2,4 miliar.

Lighthizer mengumumkan serangkaian tarif baru untuk barang-barang Prancis tahun lalu sebagai tanggapan atas pajak Prancis, tetapi menunda implementasinya untuk membahas pendekatan global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

prancis amerika serikat pajak digital
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top