Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indeks Manufaktur China Melempem Lagi, Pemulihan Ekonomi Melambat?

Pemerintah China melaporkan indeks manufaktur hanya mencapai 50,6 pada Mei 2020. Padahal, operasional pabrik sudah mulai berjalan.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 31 Mei 2020  |  14:55 WIB
Pekerja mengenakan masker di pabrik milik Yanfeng Adient Seating Co. di Shanghai, China, Senin (24/2/2020). - Bloomberg/Qilai Shen
Pekerja mengenakan masker di pabrik milik Yanfeng Adient Seating Co. di Shanghai, China, Senin (24/2/2020). - Bloomberg/Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA — Purchasing Managers' Index (PMI), yang menjadi indeks kinerja manufaktur, China tercatat hanya sebesar 50,6 pada Mei 2020. Angka ini lebih rendah dari bulan sebelumnya, sekaligus menjadi indikasi perlambatan pemulihan ekonomi.

Bloomberg melansir Minggu (31/5/2020), pada April 2020, PMI China berada di level 50,8. Realisasi ini juga lebih rendah dari proyeksi. Adapun level 50 menjadi batas antara kontraksi dan pertumbuhan kinerja.

Sementara itu, National Bureau of Statistics (Biro Statistik Nasional) China mengumumkan indeks non manufaktur naik ke level 53,6. Kemudian, indeks order ekspor baru naik menjadi 35,5, tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur melemah menjadi 49,4, sedangkan penyerapan tenaga kerja di non manufaktur sebesar 48,5.

"Situasi epidemi global dan ekonomi dunia saat ini masih kelabu dan kompleks, dan permintaan dari luar negeri terus menyusut," tutur ekonom Biro Statistik Nasional China Zhao Qinghe.

Dia menambahkan meskipun ada peningkatan di sisi indeks ekspor baru dan indeks impor pada bulan ini, tapi angkanya masih berada di level terendah sepanjang sejarah.

Data ini juga menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi di China masih rentan risiko, meski sebelumnya sempat rebound karena permintaan menumpuk. Walaupun banyak pabrik sudah kembali beroperasi dan produksi meningkat, penurunan order mengadang laju pemulihan.

"Permintaan global masih lemah meski lockdown sudah direlaksasi di sejumlah kota besar dunia. Tingkat penyerapan tenaga kerja terkontraksi lagi pada Mei 2020, dan hal itu menggarisbawahi terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di pabrik-pabrik setelah order ekspor terus menurun," papar Kepala Ekonom ING Bank NV di Hong Kong, Iris Pang.

Pinghu Mijia Child Product Co., produsen skuter mainan untuk peritel AS, termasuk pabrik yang menikmati kenaikan pesanan walaupun masih di bawah keadaan normal. Sales Manager Pinghu Mijia Justin Yu mengungkapkan order yang masuk masih 40-50 persen lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Sementara itu, untuk mengompensasi anjloknya permintaan dari pasar luar negeri, sejumlah perusahaan mengalihkan target pasar ke konsumen dalam negeri. Vice President Fujian Strait Textile Technology Co. Dong Liu menyampaikan sebelum pandemi Covid-19, pihaknya biasa menjual 60 persen produk mereka ke Eropa dan AS.

"Petinggi di perusahaan kami sudah mulai mengunjungi pasar lokal untuk mendapatkan klien potensial. Sejak 26 Mei 2020, kami telah berproduksi selama 24 jam sehari di kapasitas penuh. Seluruh persediaan sudah dijual dan kami terus menggencarkan produksi," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china Virus Corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top