Raksasa Peternakan Babi di China Tambah Stok

Peternakan babi berskala besar di China yang lolos dari wabah penyakit hewan terburuk di dunia dikabarkan sedang memperluas ternaknya, sehingga mendorong pemulihan jumlah babi pada tahun depan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 23 Oktober 2019  |  13:18 WIB
Raksasa Peternakan Babi di China Tambah Stok
Peternakan babi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Peternakan babi berskala besar di China yang lolos dari wabah penyakit hewan terburuk di dunia dikabarkan sedang memperluas ternaknya, sehingga mendorong pemulihan jumlah babi pada tahun depan.

Menurut Qiu Huaji, Kepala divisi penyakit menular babi di Harbin Veterinary Research Institure, restocking (penambahan stok) dalam peternakan skala industri akan menghasilkan pergeseran dalam produksi babi di China.

Sementara itu, peningkatan skala tersebut akan mengarah pada peningkatan yang lebih besar dalam langkah-langkah untuk melindungi babi dari demam babi Afrika.

“Penyakit ini akan menyebabkan pengaturan di seluruh industri, dengan mendesak para peternak untuk meningkatkan biosecurity serta mempercepat ekspansi peternakan skala besar,” tutur Qiu dalam konferensi tentang demam babi di Afrika di Zhengzhou, provinsi Henan, seperti dilansir melalui Bloomberg (Rabu, 23/10/2019).

Virus, yang membunuh sebagian besar babi dalam dua pekan, telah memangkas separuh jumlah babi di China sejak kasus ini pertama kali dilaporkan pada Agustus tahun lalu, menurut Rabobank.

Kondisi itu menyebabkan kekurangan besar dalam pasokan daging babi yang telah mendorong lonjakan harga domestik sebesar lebih dari dua kali lipat sekaligus meningkatkan biaya daging babi di seluruh dunia.

“Banyak produsen telah keluar dari industri ini sedangkan yang lain enggan untuk mengisi stok kembali karena risiko penyakit yang berkelanjutan,” papar Departemen Pertanian AS dalam sebuah laporan pada 10 Oktober.

Namun, potensi laba yang mencapai rekor disebut menjadi motivasi kuat untuk mengisi kembali dan meningkatkan produksi.

Muyuan Foodstuff Co., yang membiakkan babi dan memasok pakan ternak, diperkirakan akan memiliki 1,3 juta induk babi pada akhir 2019 setelah meningkatkan kembali jumlah kawanan babi serta memperluas operasi pakan ternak dan penyembelihannya.

Bulan ini, Muyuan melaporkan lonjakan laba bersih sebesar lebih dari tiga kali lipat menjadi 1,54 miliar yuan (US$217 juta) pada kuartal ketiga.

Menurut Chairman Qin Yinglin, perusahaan yang berbasis di Nanyang, Henan, itu telah menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi ancaman penyakit.

“Kami yakin virus demam babi Afrika dapat diberantas di peternakan-peternakan besar di China sehingga vaksinnya tidak diperlukan,” ujar Qin tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Sementara itu, New Hope Liuhe Co., yang memasok 15 juta ton pakan ternak kepada 250.000 pengguna setiap tahun, berupaya memenuhi kebutuhan ganda meningkatkan pasokan daging babi dan melindungi lingkungan.

Perusahaan yang berbasis di Chengdu, provinsi Sichuan, ini memiliki target untuk memiliki kapasitas membiakkan 25 juta babi pada tahun 2022. Menurut Vice President Ji Chongxing, upaya yang dilakukan oleh New Hope meliputi pengolahan limbah hewan.

“Perusahaan-perusahaan besar berusaha yang terbaik untuk meningkatkan ternak babi mereka," kata Lin Guofa, seorang analis senior di Bric Agriculture Group. Dia memperkirakan jumlah peternakan yang membiakkan lebih dari 5.000 babi setiap tahun dapat berlipat ganda dua tahun depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
babi, virus demam babi Afrika

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top