Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BPN Curhat Petahana Sulit Dikalahkan? Ini Tips dari Pengamat

Curahan hati dari pihak BPN Prabowo-Sandiaga sebagai penantang dalam kontestasi Pilpres 2019 terkait sulitnya mengalahkan calon incumbent atau petahana, dianggap alasan klasik semata.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 17 Juni 2019  |  14:48 WIB
Ilustrasi - ANTARA FOTO/Wahyu Putro
Ilustrasi - ANTARA FOTO/Wahyu Putro

Bisnis.com, JAKARTA — Curahan hati dari pihak BPN Prabowo-Sandiaga sebagai penantang dalam kontestasi Pilpres 2019 terkait sulitnya mengalahkan calon incumbent atau petahana, dianggap alasan klasik semata.

Salah satunya diungkap Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno yang menjelaskan kepada Bisnis, Senin (17/6/2019), bahwa di mana-mana melawan petahana memang bukan perkara mudah.

"Jangankah pilpres, level pemilihan kepala desa pun susah mengalahkan petahana. Sebab, petahana memiliki segalanya mulai dari infrastruktur hingga suprastruktur politik," jelasnya.

"Yang paling penting, petahana selama 5 tahun lamanya sudah 'mengkampanyekan' dirinya. Satu bonus yang tak dimiliki penantang," tambah Adi.

Menurut Adi, sebenarnya dalam politik, tak ada yang mustahil, termasuk mengalahkan petahana. Tetapi, bagaimana sebagai penantang menyajikan hal-hal baru dan segar yang mampu meyakinkan masyarakat bahwa dirinya mampu membuat perbedaan.

"Misalnya pilpres 2004 petahana Megawati kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono yang menggunakan cara kampanye jitu dalam menarik simpati publik," ungkap Adi.

"Di pilpres 2019 ini, penantangnya adalah figur lama dengan metode yang lama pula. Jadi susah mengalahkan petahana. Beda ceritanya jika yang melawan Jokowi itu Anies Baswedan misalnya, pasti jauh lebih seru," tambahnya.

Senada dengan Adi, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini berpendapat bahwa penantang juga bisa memiliki kelebihan, terutama ketika terbiasa mengawasi program-program pemerintahan secara komprehensif.

"Memang fenomena global begitu. Yang namanya incumbent itu memiliki kelebihan karena dia mempromosikan diri lebih awal lewat program-program populis. Program ini sebenarnya akan dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia," jelas Titi.

"Yang menjadi problem adalah ketika kinerja pemerintah buruk, tapi menjelang pemilu dia membangun program-program populis, ini yang jadi problem. Bedakan antara programatik dan sporadis-elektoral. Ini yang harus dicermati [oleh pihak penantang]," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sidang MK Pilpres 2019
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top