Aksi 22 Mei dan Perlawanan Hoaks Anies

Rentetan aksi demonstrasi yang disusul kerusuhan pada 21-22 Mei 2019, nyaris memicu kekisruhan dalam skala lebih besar. Potensi pemicu itu tak lain kabar tewasnya beberapa perusuh serta sikap aparat yang dinilai beringas oleh sebagian pihak.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 28 Mei 2019  |  12:52 WIB
Aksi 22 Mei dan Perlawanan Hoaks Anies
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memantau situasi di depan gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Jakarta, Rabu (22/5/2019). - Bisnis/Lalu Rahadian

Bisnis.com, JAKARTA -- Pekan lalu, Jakarta sempat dibuat geger. Aksi damai yang berlangsung pada siang hingga sore hari pada Selasa (21/5/2019), berubah menjadi ricuh pada malam harinya.

Sebarisan massa yang datang menyusul membuat gaduh. Bentrokan dengan aparat tak terhindarkan, bersambung hingga dini hari dari sekitar gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), merembet sampai Pasar Tanah Abang.

Belum tuntas bentrokan tersebut, meletus peristiwa kerusuhan lainnya di daerah Slipi, Petamburan, serta Asrama Brimob di Jalan KS Tubun. Hingga Rabu (22/5). bentrokan masih berlangsung, ditambah dengan aksi bakar kendaraan oleh massa.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang sekiranya baru tiba dari Jepang pada Rabu (22/5), langsung turun gelanggang. Pada saat bersamaan, masyarakat diliputi kecemasan karena kerusuhan masih terjadi.

Secara umum, kerusuhan di beberapa titik itu seolah ingin memunculkan kesan seluruh Jakarta dikepung kerusuhan. 

Demonstran menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Unjuk rasa dilakukan pascpengumuman penetapan hasil rekapitulasi nasional Pemilu 2019./ANTARA FOTO-Indrianto Eko Suwarso

Namun, pada hari di mana aksi demonstrasi sejak jauh hari digaungkan, masyarakat seakan membuka mata dengan berita menebar duka. Pertanyaan umum yang ada di benak: akankah situasi serupa pada 1998 kembali terjadi di Jakarta?

Belum reda geger tersebut, suasana boleh jadi lebih mencekam tatkala ada korban tewas tertembak. Komando lapangan pada situasi genting itu ada di pundak Polri dan TNI, beserta tim terpadu dari jajaran kementerian teknis hingga Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Politik, Hukum, dan HAM (Polhukam).

Sampai saat itu, belum ada yang mengabarkan adanya korban tewas dari bentrokan tersebut. Masing-masing pihak tampak berupaya meredakan situasi agar massa kembali tenang dan menghindari bentrok.

Informasi bahwa polisi dan TNI di lapangan tak dipersenjatai peluru tajam pun terus disampaikan. Aparat hanya dimodali tambahan pentungan dan tameng.

Namun, kemudian muncul berita bahwa ada kabar korban tewas tertembak, parahnya diduga tertembus peluru tajam. Kegaduhan pun tak terhindarkan.

Anies, yang sejak pagi mengunjungi RSUD Tarakan, mengonfirmasi ada korban tewas sementara sebanyak enam orang dan ratusan luka-luka yang tersebar di beberapa rumah sakit di Jakarta. RSUD Tarakan adalah salah satunya.

Langkah Anies ini tak pelak disorot banyak pihak. Terlebih, pernyataan terbukanya terkait penanggungan biaya bagi para korban seakan dinilai mengumbar kericuhan demonstrasi.

Meski tak bertendensi, pernyataan Gubernur Anies terkait korban yang mendahului pernyataan resmi komando lapangan, dianggap tidak tepat.

“Kalaupun diniatkan tanpa tendensi, pernyataan itu bukan mengendorkan aksi kerusuhan dan malah berpotensi memicu kemarahan massa lebih besar,” ujar Periset Vigilantisme Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yogi Setya Permana kepada Bisnis, Sabtu (25/5/2019).

Selain datang ke RSUD Tarakan, Anies juga menyambangi gedung Bawaslu. Itupun dilakukan pada siang jelang sore hari.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu sempat melayat ke rumah korban di daerah Tambora, Jakarta Barat. Anies ikut mengusung keranda korban bernama Yudhianto Rizky Ramadhan.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) menjabat tangan petugas polisi yang bertugas mengamankan kawasan sekitar Kantor Bawaslu RI di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat (24/5/2019) malam./ANTARA FOTO-Aditya Pradana Putra

Pada saat itu, dia melontarkan imbauan agar semua pihak tetap menjaga ketenangan.

“Cukup sudah ada korban,” tegasnya.

Pernyataan dan tindakan sang gubernur itu pun membuat tim komando lapangan kelimpungan. Saat jumpa pers tanpa kehadiran Anies, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian masih belum bisa memastikan musabab korban tewas yang sebanyak enam orang tersebut.

“Kami masih akan melakukan investigasi,” ucapnya, seraya mensinyalir adanya pihak ketiga yang mendompleng kerusuhan.

Sebelumnya, Polri sudah meringkus Eks Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Soenarko beserta dua orang lainnya, yang diduga akan menyelundupkan senjata jenis M4 dilengkapi peredam serta amunisi tajam.

Tidak Eksplisit
Pada situasi genting itu, Anies dianggap tidak eksplisit melontarkan pendapat untuk menenangkan situasi. Menurut Yogi, meski tercatat ada pernyataan dari Gubernur agar masyarakat tenang, tetapi amplifikasi dari tindakan dan pernyataan yang paling besar yaitu soal pendapat terkait korban yang masih dalam investigasi Kepolisian.

“Harusnya sebagai pemimpin dia memahami situasi kegentingan tersebut. Sehingga, sebelum membuat pernyataan dan mengungkapkan temuan, dikoordinasikan lebih dulu dengan Komando lapangan saat itu, Polri dan TNI,” paparnya.

Dalam logika mobilisasi massa, faktor jatuhnya korban sebagai martir merupakan generator kuat menggerakan kekuatan lebih besar. Oleh karena itu, Yogi melihat sikap Polri dan TNI yang hati-hati dalam menyisir informasi dan melakukan investigasi, patut diapresiasi.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Mohamad Iqbal (tiga dari kiri) dan Wakil Kepala Puspen TNI Laksamana Pertama Tunggul Suropati (kedua dari kiri) dalam konferensi pers terkait aksi 21-22 Mei di kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) di Jakarta, Senin (27/5/2019)./Bisnis-Lalu Rahadian

“Namun, itu sudah runtuh akibat pernyataan Anies soal korban tewas yang dilontarkan sebelumnya,” katanya.

Dalam situasi kekacauan tersebut, banyak pihak yang melayangkan pertanyaan langsung kepada pihak kepolisian. Jumlah korban pun terus diperbarui oleh Polri dengan komitmen menyelenggarakan investigasi langsung.

“Investigasi inilah yang patut terus ditagih dan diawasi, karena Polri punya kepentingan menenangkan massa,” simpul Yogi.

Simbol Normalitas 
Jakarta dipandang normal jika pasar masih ramai, pertokoan tidak tutup, aktivitas bisnis tetap berjalan. Salah satu yang jadi pusat perhatian sebagai parameter itu adalah Pasar Tanah Abang yang masuk dalam radius kerusuhan 21-22 Mei 2019.

Selain seolah membuat langkah blunder pada 22 Mei, Gubernur DKI Jakarta pun belum mengesankan inisiatif mempercepat kondisi normal di ibu kota. Sejauh ini, upaya itu dinilai hanya terwakili pernyataan normatif agar masyarakat beraktivitas seperti sediakala.

Anies seakan masih sibuk menangkis tudingan tidak seriusnya meredakan situasi genting saat kerusuhan lalu. Termasuk, terkait alasannya untuk mengungkapkan data korban jiwa akibat kerusuhan sedini mungkin, yakni untuk melawan hoaks yang mungkin muncul.

"Kenapa saya umumkan korban? Untuk mencegah terjadinya spekulasi. Jadi, kalau ada orang yang protes, kenapa korban belum diumumkan? Apa salahnya dengan transparansi?" demikian pernyataannya.

Di sisi lain, setidaknya hingga akhir pekan lalu, para pedagang Pasar Tanah Abang mengaku kondisi pasar belum beranjak normal sepenuhnya. Apalagi, sebelumnya, terdapat imbauan penutupan pasar hingga Sabtu (25/5).

Pengurus Koperasi Syariah Pedagang Pasar Tanah Abang Yasril mengungkapkan selama terhentinya aktivitas niaga, miliaran uang tak lagi berputar. Tetapi, sejak Kamis (23/5), sejumlah pedagang sudah berani membuka toko, meski mayoritas tidak penuh waktu.

“Di beberapa blok, hanya setengah hari,” sebutnya.

Keberanian para pedagang itu dilandasi jaminan keamanan dari aparat Kepolisian dan TNI yang didorong tokoh masyarakat serta pengelola pasar.

“Penjagaan sebelum kerusuhan tiap blok ada sekitar 100 prajurit TNI, itu lebih ditingkatkan setelah kerusuhan kemarin,” tambah Yasril.

Sejumlah warga melintas di jembatan penyeberangan multiguna (JPM) Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (23/5/2019)./ANTARA FOTO-Aditya Pradana Putra

Dia mengamini para pembeli yang membanjiri Pasar Tanah Abang surut sebagai imbas kerusuhan, padahal sudah memasuki pekan kedua menuju Lebaran.

”Periode ini, pedagang dari daerah, terutama Jabodetabek, yang banyak berdatangan. Sepertinya masih ada rasa takut, jadi masih sepi,” tukas Yasril.

Sebagai perkiraan, Direktur PD Pasar Jaya Arief Nasrudin memperkirakan menjelang Lebaran, transaksi Pasar Tanah Abang bisa mencapai lebih dari Rp100 miliar per hari.

“Skala ekonominya besar, sehingga kami menginginkan kondisi stabil kembali, pedagang dan pembeli tidak takut,” tuturnya kepada Bisnis.

Keresahan itu layaknya bisa disikapi cepat oleh Gubernur Anies. Selain pernyataan, masyarakat, apalagi yang di luar ibu kota, membutuhkan gestur yang nyata bahwa Jakarta sepenuhnya aman.

“Paling tidak, Anies yang kemarin berkunjung ke rumah sakit, bisa mengunjungi pasar Tanah Abang. Dengan begitu, masyarakat yakin kondisi aman. Bilang saja, ayo belanja Lebaran, pasar Tanah Abang aman,” ucap Yogi.

Kerusuhan memang mengancam nyawa. Selain potensi korban akibat bentrokan, bahaya massal mengancam periuk nasi warga Jakarta. Sikap pemimpin Jakarta pun diyakini bisa membantu normalisasi situasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
anies baswedan, fokus, Aksi 22 Mei

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top