May Upayakan KTT dengan UE pada Akhir Pekan Berjalan Lancar

PM Inggris Theresa May bertolak ke Brussels, Belgia, untuk melanjutkan perundingan Brexit kendati posisinya masih terjepit di antara menteri kabinetnya dan ancaman dari para pemimpin UE.
Dwi Nicken Tari | 21 November 2018 16:08 WIB
Perdana Menteri Inggris Theresa May - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—PM Inggris Theresa May bertolak ke Brussels, Belgia, untuk melanjutkan perundingan Brexit kendati posisinya masih terjepit di antara menteri kabinetnya dan ancaman dari para pemimpin UE.

Adapun anggota Partai Konservatif dan menteri di Kabinet Inggris telah meminta supaya kesepakatan Brexit disusun ulang. Namun, di sisi lain, para pemimpin Eropa mengancam bakal walkout jika May mengabulkan permitaan tersebut.

May dijadwalkan bertemu dengan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker pada Rabu (21/11/2018) malam waktu setempat untuk membuat kemajuan dalam menyusun bingkai kesepakatan dagang masa depan antara Inggris dan UE.

Bloomberg melaporkan, perundingan May dan Juncker akan fokus dalam kemitraan masa depan Inggris dan UE, termasuk hubungan dagang dan keamanan yang akan dimiliki Inggris dengan 27 negara UE lainnya.

Adapun perincian dari hasil perundingan May dan Juncker akan terus dirundingkan selama masa transisi, selama 21 bulan, terhitung setelah Inggris resmi meninggalkan UE pada Maret 2019.

Selanjutnya, May berharap para pemimpin UE dapat menandatangani kesepakatan Inggris keluar dari UE (Brexit) yang setebal 585 halaman, begitu pula berkas kemitraan di masa depan, pada KTT yang akan diadakan pada Minggu (25/11/2018) di Brussels.

Sementara itu, dari dalam negeri Inggris, anggota Partai Konservatif yang euroskeptics tetap mendesak agar May mengubah beberapa bagian kunci dalam kesepakatan tersebut dan meminta lebih banyak konsesi dari UE sebelum proposal itu ditandatangani oleh para kepala negara.

Hal itu pun membuat Kanselir Jerman Angela Merkel menambah tekanan agar Pemerintahan Inggris mendukung kesepakatan Brexit tersebut. Dia mengingatkan, KTT UE dan Inggris pada akhir pekan ini dapat gagal jika May kembali merevisi proposalnya.

“Kami sadar bahwa kepergian Inggris kini memasuki fase yang menentukan dan kami berharap Dewan Eropa pada Minggu akan menandatangani traktat keluarnya [Inggris] dan mendiskusikan hubungan di masa depan,” ujar Merkel di Berlin, Jerman, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (21/11/2018).

Adapun waktu untuk memperpanjang masalah memang semakin habis. Inggris dijadwalkan keluar dari UE pada 29 Maret 2019, atau kurang dari empat bulan dari sekarang.

Sejauh ini, May telah berusaha sangat keras di dalam negerinya untuk mencapai kesepakatan Brexit. Dia bahkan telah menghadapi berulang kali pengunduran diri di dalam kabinetnya karena tidak dapat menyatukan suara antara pro-Brexit dan pro-UE.

Selain itu, Partai Konservatif juga telah berusaha menggulingkan May karena mereka tidak dapat mendukung proposal yang telah disetujui dengan UE pada pekan lalu. Sejauh ini, hal itu masih belum dapat terlaksana.

Terlepas dari itu semua, May masih dihadapkan dengan tugas berat lainnya, yaitu membujuk anggota House of Commons untuk mendukung kesepakatan Brexit dalam pemungutan suara yang dijadwalkan pada Desember.

Nantinya, jika May tidak berhasil mendapatkan suara yang cukup, Inggris kembali berpotensi keluar dari UE tanpa kesepakatan.

Tag : uni eropa, Theresa May
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top