Inikah Tujuan Yusril Ihza Mahendra Jadi Pengacara Jokowi-Ma'ruf?

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komaruddin menilai keputusan Yusril Ihza Mahendra menyetujui menjadi pengacara capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin adalah langkah tepat.
Newswire | 06 November 2018 06:24 WIB
Advokat Yusril Ihza Mahendra memberikan keterangan kepada media usai sidang sengketa pilkada di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jumat (27/7/2018). - Bisnis.com/Samdysara Saragih

Bisnis.com, JAKARTA - Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komaruddin menilai keputusan Yusril Ihza Mahendra menyetujui menjadi pengacara capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin adalah langkah tepat.

"Bagi Pak Yusril memilih menyetujui menjadi pengacara capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf yang merupakan capres 'incumbent', bisa sama-sama berkuasa. Pak Yusril juga dapat mengamankan partainya, PBB (Partai Bulan Binatang) yang selama ini sulit masuk Senayan," kata Ujang Komaruddin, ketika dihubungi di Jakarta melalui telepon selulernya, Senin (5/11/2018) malam.

SIMAK: Keuntungan Yusril Jadi Pengacara Jokowi-Ma'ruf

Ujang Komaruddin mengatakan hal itu ketika diminta tanggapannya mengenai pernyataan Yusril Ihza Mahendra yang menyebut, dirinya menyetujui menjadi pengacara pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf dalam menghadapi Pemilu Presiden 2019.

Ujang Komaruddin menjelaskan, dari pendekatan Joko Widodo sebagai capres petahana, membutuhkan berbagai dukungan untuk memenangkan kembali pemilu presiden, antara lain dengan merekrut tokoh-tokoh yang kritis maupun yang berseberangan pandangan.

Ujang menyebut beberapa tokoh yang sudah direktrut antara lain, Kapitra Ampera (Pengacara Imam Besar Front Pembela Islam Habib Rizieq), Ali Mochtar Ngabalin, dan saat ini Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra yang mantan pengacara capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada Pemilu Presiden 2014.

"Tokoh-tokoh kritis yang direkrut ke kubu 'incumbent' (petahana) menjadi penting untuk menambahkan kekuatannya dan sebaliknya melemahkan kekuatan lawan dalam menghadapi, Pemilu 2019," tuturnya.

Bergabungnya Yusril Ihza Mahendra di kubu pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf, menurut Ujang, menjadi penting karena Yusril juga dikenal sebagai pengacara Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang telah dibubarkan Pemerintah.

"Kalau Pak Yusrul menyatakan setuju menjadi pengacara Pak Jokowi dan Ma'ruf, bukan terjadi perpecahan, tapi Pak Yusril merapat kekekuasaan," ujarnya.

Menurut dia, bagi Yusril Ihza Mahendra, kondisi saat ini lebih baik mendukung capres petahana, yang dampak politisnya dapat mengamankan partainya, PBB, yang selama ini sulit untuk berada di Senayan.

"Pak Yusril sebagai tokoh utama PBB, tentunya gerbong partainya akan terbawa," ucapnya, menjelaskan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
yusril ihza mahendra, Pilpres 2019

Sumber : Antara
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top