Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Letusan Krakatau 1883: Bulan Berwarna Biru

Tepat 135 tahun yang lalu, Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda mulai menunjukkan erupsi awal, yang ditandai dengan suara bergemuruh dan kepulan abu setinggi lebih dari 9 kilometer.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 20 Mei 2018  |  06:07 WIB
Letusan Krakatau 1883: Bulan Berwarna Biru
Infografis Letusan Gunung Krakatau
Bagikan

Bisnis.com,  JAKARTA — Tepat 135 tahun yang lalu, Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda mulai menunjukkan erupsi awal, yang ditandai dengan suara bergemuruh dan kepulan abu setinggi lebih dari 9 kilometer.

Puncaknya terjadi pada 27 Agustus 1883, tepat pukul 10.20, Krakatau meletus dahsyat. Selat Sunda bak neraka. Itulah yang tergambar pada saat Gunung Krakatau yang bangun dari tidur panjang selama 200 tahun. Bahkan tak sekadar meletus, melainkan meledak hingga hancur berkeping-keping.

Kekuatannya setara 150 megaton TNT, lebih besar 10.000 kali kekuatan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki di Jepang kala itu.

Alhasil  suara ledakan dan gemuruh letusan pun terdengar sampai radius lebih dari 4.600 km, dan terdengar sepanjang Samudera Hindia, dari Pulau Rodriguez dan Sri Lanka di barat, hingga penjuru timur ke Australia.

Karena itu,  letusan Krakatau masih tercatat sebagai suara letusan paling keras yang pernah terdengar di muka bumi. Siapa pun yang berada dalam radius 10 kilometer niscaya menjadi tuli. The Guiness Book of Records mencatat bunyi ledakan Krakatau sebagai  bunyi paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Sejumlah laporan menyebutkan, karena peristiwa tersebut menyebabkan korban jiwa yang mencapai 120 ribu. Kerangka-kerangka manusia ditemukan mengambang di Samudera Hindia hingga pantai timur Afrika hingga 1 tahun setelah letusan.

Lebih dahsyat lagi, fenomena langit juga terjadi kala itu. Abu vulkanik letusan tersebut menyebabkan bulan berwarna biru. 

Pascaletusan tersebut, Krakatau hancur. Namun,  mulai  1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau. Gunung tersebut sangat aktif dan terus tumbuh. Tak heran,  Anak Krakatau adalah satu dari 100 gunung berapi yang terus dipantau NASA melalui satelit Earth Observing-1 atau EO-1.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sejarah letusan gunung
Editor : Gajah Kusumo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top