Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Putin Kembali Terpilih, Menlu Jerman: Rusia Tetap Akan Jadi Mitra yang Sulit

Jerman mengungkapkan Rusia akan tetap menjadi mitra yang sulit setelah kembali terpilihnya Vladimir Putin sebagai presiden.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 19 Maret 2018  |  19:10 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin (ki) dan Perdana Menteri Dmitry Medvedev berjalan sebelum sebuah pertemuan dengan anggota pemerintahan di Moskow, Rusia, Selasa (26/12/2017).  - Sputnik
Presiden Rusia Vladimir Putin (ki) dan Perdana Menteri Dmitry Medvedev berjalan sebelum sebuah pertemuan dengan anggota pemerintahan di Moskow, Rusia, Selasa (26/12/2017). - Sputnik

Bisnis.com, JAKARTA – Jerman mengungkapkan Rusia akan tetap menjadi mitra yang sulit setelah kembali  terpilihnya Vladimir Putin sebagai presiden.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas, menanggapi kembali terpilihnya Vladimir Putin pada hari Minggu. Uni Eropa harus bisa terus berbicara dengan Rusia, meski ada sejumlah isu, katanya.

"Hasil pemilihan di Rusia sama mengejutkannya dengan kami karena keadaan pemilihan umum. Kami tidak dapat membicarakan persaingan politik yang adil dalam semua hal karena kami akan memahaminya," kata Maas kepada wartawan saat tiba pada pertemuan bulanan Menteri luar negeri Uni Eropa, seperti dikutip Reuters.

"Rusia akan tetap menjadi mitra yang sulit, tapi Rusia juga akan dibutuhkan untuk penyelesaian konflik internasional besar dan kami ingin tetap berdialog," lanjut Maas.

Seperti  diprediksikan sebelumnya, Putin kembali terpilih sebagai Presiden Rusia setelah memenangkan Pemilu yang digelar pada Minggu (18/3/2018) waktu setempat.

Dilansir dari Reuters, Senin (19/3), dengan hampir 100% surat  suara yang telah dihitung, Putin yang telah memimpin Rusia sejak 1999 memperoleh 76,68% suara. Dengan kemenangan ini, maka dia masih akan memimpin Rusia hingga 2024.

Sementara itu, Pavel Grudinin yang menjadi kandidat dari Partai Komunis mendapat 11,8% suara, sedangkan Vladimir Zhirinovsky memperoleh 5,6% suara. Adapun pemimpin oposisi Alexei Navalny telah dilarang untuk ikut serta.

Dalam pidato kemenangannya di dekat Red Square, Putin mengatakan kepada pendukungnya bahwa kemenangan tersebut merupakan mosi percaya pada apa yang telah dicapai dalam masa-masa sulit Rusia.

"Sangat penting untuk menjaga persatuan. Kita akan berpikir tentang masa depan negara ini," ujar Putin kepada para pendukungnya.

Dia mengakui akan ada banyak tantangan yang mesti dihadapi, tapi Rusia memiliki kesempatan untuk maju.

Putin telah berada di pusat pemerintahan, baik sebagai perdana menteri maupun sebagai presiden, sejak 2000. Jika masa jabatannya dipenuhi hingga 2024, maka dia akan berkuasa selama hampir seperempat abad.

Tercatat hanya Josef Stalin yang pernah berkuasa lebih lama di negara itu.

Terpilihnya Putin juga terjadi di tengah tekanan besar dari negara-negara Barat, baik mengenai dukungan Rusia terhadap Presiden Suriah Bashar Al-Assad, konflik di Krimea, tudingan Inggris mengenai keterlibatan Rusia dalam serangan racun saraf terhadap mantan mata-mata Sergei Skripal, serta tuduhan dari AS terkait keterlibatan Rusia dalam Pemilu Presiden 2016.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vladimir putin Rusia
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top