Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tokoh Anti-Perang Rusia Boris Nadezhdin Siap Tantang Putin dalam Pilpres

Warga Rusia menginginkan berakhirnya perang merupakan silent majority, yang enggan bersuara karena ketatnya sistem politik Rusia.
PERANG RUSIA VS UKRAINA. Pasukan militer Rusia menembakkan Rudal ke wilayah Ukraina/ The Moscow Times.
PERANG RUSIA VS UKRAINA. Pasukan militer Rusia menembakkan Rudal ke wilayah Ukraina/ The Moscow Times.

Bisnis.com, JAKARTA – Tokoh anti-perang Rusia Boris Nadezhdin menyampaikan 105.000 tanda tangan dukungan pencalonannya sebagai presiden kepada Komisi Pemilihan Umum Pusat (CEC), Rabu (31/1/2024) waktu setempat.

Dilansir dari Reuters pada Kamis (1/2/2024), jumlah tersebut secara teknis cukup untuk menantang petahana Vladimir Putin dalam Pilpres Rusia pada Maret mendatang.

Tidak ada yang mengharapkan kemenangan Nadezhdin terhadap Putin, yang telah berada di pemerintahan Rusia sejak akhir tahun 1999 dan mengendalikan seluruh pemerintahan.

Namun, Nadezhdin sempat mengejutkan beberapa pihak dengan kritik tajamnya terhadap serangan Rusia ke Ukraina, yang disebut sebagai "kesalahan fatal". Dia sempat menyebut akan berusaha mengakhiri perang tersebut melalui perundingan.

Di tengah sistem politik Rusia yang ketat, pernyataannya itu telah memicu spekulasi bahwa dia mungkin akan dihalang-halangi untuk mencalonkan diri karena alasan teknis atau dipaksa mundur.

Kendati demikian, Nadezhdin mengisyaratkan bahwa dia bertekad untuk mencalonkan diri.

"Akan sangat sulit bagi CEC dan pihak berwenang untuk mengatakan bahwa mereka tidak melihat ada gajah di dalam ruangan,” katanya, mengacu pada keberhasilannya dalam mengumpulkan tanda tangan yang diperlukan untuk maju sebagai capres.

Setelah ini, petugas akan memeriksa keaslian tanda tangan yang diserahkan oleh Nadezhdin dan calon kandidat lainnya. Beberapa kandidat disebut telah mengundurkan diri dari pencalonan dalam beberapa hari terakhir.

Nina Khrushcheva, profesor hubungan internasional di The New School di New York, mengatakan bahwa pencalonan Nadezhdin dapat menjadi masalah bagi Putin, karena Nadezhin dianggap mewakili warga Rusia yang menginginkan berakhirnya perang.

Dia menjelaskan bahwa warga Rusia yang menginginkan berakhirnya perang merupakan silent majority, yang enggan bersuara karena ketatnya sistem politik Rusia.

“Ketika Anda berkuasa selama 25 tahun, Anda sebenarnya tidak berpikir bahwa Anda bisa kalah. [Putin] berpikir bahwa dia bisa mengendalikan segalanya dan semua hal ini adalah masalah kecil yang bisa diatasi,” ujarnya.

Khrushcheva menambahkan, CEC mungkin akan menemukan alasan untuk menghentikan Nadezhdin dari pencalonan presiden, mengingat rekam jejak serupa. Tersisa waktu 10 hari bagi CEC untuk memutuskan status Nadezhdin.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper