Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Update Perang Rusia vs Ukraina Hari ke-215: Rusia Pakai Nuklir, AS Marah

Senjata nuklir Rusia bisa menimbulkan reaksi yang berbahaya bagi manusia. Apakah Putin akan pakai nuklir untuk menyerang Ukraina?
Alifian Asmaaysi
Alifian Asmaaysi - Bisnis.com 26 September 2022  |  12:12 WIB
Update Perang Rusia vs Ukraina Hari ke-215: Rusia Pakai Nuklir, AS Marah
Reruntuhan apartemen di Donesk, Ukraina, yang terhantam rudal Rusia /Pavlo Kyrylenko - Handout via REUTERS
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Perang Rusia vs Ukraina sudah masuk di hari ke-215 dan masih terus berlanjut. Kini Putin mengancam menggunakan senjata nuklir.

Hal tersebut lantas memicu kekhawatiran berbagai negara. Salah satunya, Amerika yang berikan ancaman balik terhadap Rusia.

Dilaporkan bahwa Amerika akan bertindak tegas apabila Rusia merealisasikan wacana serangan senjata nuklir di Ukraina. Tak hanya itu, AS juga menyinggung konsekuensi bencana yang jauh lebih serius apabila Rusia tetap nekat lakukan serangan lewat senjata nuklir.

Penasihat Keamanan Amerika Serikat, Jake Sullivan menyampaikan kepada publik bahwa AS telah melakukan komunikasi secara internal yang dibangun dengan Rusia guna membahas ancaman Vladimir Putin yang dipandang sangat berbahaya apabila direalisasikan.

“Kami telah berkomunikasi secara langsung, secara pribadi dan pada tingkat yang sangat tinggi kepada Kremlin bahwa setiap penggunaan senjata nuklir akan menghadapi konsekuensi bencana bagi Rusia. AS dan sekutu kami akan merespons dengan tegas dan kami telah jelas serta spesifik [dalam menggambarkan] apa yang akan terjadi,” jelas Sullivan kepada CBS dalam The Guardian, dikutip pada Senin (26/9/2022).

Tak hanya dapat beragam kecaman dari negara barat, Rusia juga tengah mendapat banyak protes dari warganya atas seruan mobilisasi militer parsial yang sebelumnya disampaikan oleh Vladimir Putin demi kembali membangun serangan ke Ukraina.

Dilansir dari The Guardian, protes terhadap mobilisasi militer masih terus berlanjut di Republik Rusia Degestan.

Simak update rangkuman perang Rusia vs Ukraina, Senin (26/9/2022):

- Masyarakat Rusia masih lancarkan protes tanggapi perintah mobilisasi militer parsial 

Protes terhadap perintah mobilisasi militer parsial Vladimir Putin tampaknya terus berlanjut di republik Rusia Dagestan. Dalam sebuah unggahan video amatir yang beredar di media sosial, tampak protes yang tak menemukan titik temu antara polisi dan masyarakat.

Dalam unggahan video menunjukkan bahwa polisi menangkap para demonstran yang memprotes perintah untuk merekrut 3 00.000 orang Rusia lagi menjadi tentara untuk upaya perang di Ukraina.

- Zelensky optimistis mampu rebut kembali daerah-daerah yang diduduki Rusia

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky telah bersumpah akan membebaskan wilayah Ukraina yang diduduki Rusia. Hal tersebut merupakan respon lanjutan mengenai referendum palsu yang digagas oleh Moskow. 

Bahkan, Zelensky menggklaim bahwa proses pemungutan suara atas referendum yang digelar tidaklah berjalan transparan. Masyarakat dipaksa untuk memilih dibawah tekanan yang diberikan oleh pihak militer Rusia. 

Menanggapi hal tersebut, Presiden Ukraina mengatakan bahwa angkatan bersenjata negara itu akan mengusir pasukan Rusia dan membalas setiap serangan agresor. Dia bersumpah bahwa Ukraina akan mendapatkan kembali kendali atas wilayah Kherson selatan dan Donbas timur, dengan mengatakan: "Setiap pembunuh dan penyiksa akan dibawa ke pengadilan."

- Inggris terus galang simpati demi mendukung kemenangan Ukraina

Perdana Menteri Inggris, Liz Truss, mengatakan sekutunya Prancis dan AS harus terus mendukung Ukraina dalam menghadapi ancaman yang meningkat dari presiden Rusia dan panggilan militernya. Truss mengatakan Vladimir Putin diproyeksikan akan meningkatkan agresi militer mengingat kekalahan militernya pada beberapa waktu lalu yang juga dinilai telah melakukan kesalahan.

- Warga Rusia kabur ke perbatasan Mongolia

Antrean panjang kendaraan berada di perbatasan antara Rusia dan Mongolia ketika orang-orang terus melarikan diri dari perintah mobilisasi Kremlin yang disampaikan pada Rabu (21/9/2022). 

Kepala pos pemeriksaan di kota Altanbulag mengatakan kepada badan tersebut bahwa lebih dari 3.000 orang Rusia telah memasuki Mongolia melalui penyeberangan sejak Rabu.

- Serbia tegaskan tak akan mengakui referendum yang di buat oleh Rusia

Serbia tidak akan mengakui "referendum" pencaplokan Rusia di wilayah Ukraina yang diduduki. Menteri luar negeri Serbia, Nikola Selakovic, mengatakan referendum itu dinilai benar-benar bertentangan dengan kepentingan negara dan nasional negerinya serta bertentangan dengan kebijakan dalam menangani integritas teritorial, kedaulatan, dan prinsip perbatasan yang tidak dapat diganggu gugat.

- Zelensky serukan boikot bank Rusia

Zelenskiy telah memperbarui seruan kepada sekutu barat untuk memotong bank-bank Rusia dari Swift, sistem perbankan global yang memungkinkan bank-bank saling mengirim pesan. 

“Jika kita memotong bank Rusia dari Swift, kita perlu memotong semua bank Rusia dari Swift,” jelasnya.

- Ukraina umumkan telah mendapatkan rudal pertahanan dari AS

Zelenskiy juga mengatakan bahwa Ukraina telah menerima rudal pertahanan udara Nasams (national advance surface-to-air missile systems) dari AS. Dalam sebuah wawancara TV, Zelenskiy berterima kasih kepada Presiden Joe Biden dan menegaskan bahwa Ukraina sekarang memiliki sistem Nasams di negara itu. 

- Perayaan tahun baru Yahudi, ribuan peziarah banjiri Ukraina

Ribuan peziarah Yahudi Hassidik berbondong-bondong kunjungi Ukraina tengah untuk menandai tahun baru Yahudi pada hari Minggu (25/9/2022). Para peziarah dinilai mengabaikan peringatan perjalanan internasional ketika pasukan Rusia menyerang lebih banyak target dari udara. 

- Tawanan bebas Rusia berikan kesaksian atas perlakuan Rusia terhadap dirinya

Aiden Aslin, salah satu dari lima warga negara Inggris yang dibebaskan oleh Rusia pekan lalu, telah memberikan wawancara media pertamanya setelah kembali ke Inggris. 

Dia mengatakan pada Minggu (25/9/2022), bahwa dia ditahan di sel isolasi selama lima bulan dan diperlakukan lebih buruk daripada seekor anjing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Perang Rusia Ukraina perang Rusia Ukraina
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top