Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengamat: Jokowi Effect Belum Memberi Insentif Elektoral Terhadap Bakal Capres 

Sejumlah pengamat menyebut Jokowi Effect belum berdampak bagi elektabilitas bakal capres Pemilu 2024.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 25 Juli 2022  |  17:39 WIB
Pengamat: Jokowi Effect Belum Memberi Insentif Elektoral Terhadap Bakal Capres 
Sejumlah pengamat menyebut Jokowi Effect belum berdampak bagi elektabilitas bakal capres Pemilu 2024.Bisnis - Maria Y. Benyamin
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Jelang Pemilu 2024, sejumlah partai politik tengah mengonsolidasikan kekuatan untuk mengusung capres dan cawapres pilihannya. 

Namun, hasil sebuah survei menunjukkan bahwa dukungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap para kandidat capres di Pemilu 2024 tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan elektabilitas bakal capres yang ada. 

Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Gun Gun Heryanto mengatakan bahwa pengaruh Presiden Jokowi (Jokowi Effect) untuk mendongkrak kandidat capres 2024 disebut tidak signifikan karena adanya faktor kepentingan.

Dia menyebut Jokowi harus memelihara keberlangsungan program pemerintah sembari 'berinvestasi' hubungan baik dengan siapapun yang berpotensi menang di 2024. 

Penilaiannya itu merujuk pada hasil survey yang dirilis oleh Development Technology Strategy (DTS) yang menyimpulkan hal itu. 

Gun Gun menyebutkan Jokowi tidak pernah secara gamblang menyebutkan akan mendukung salah satu bakal capres, meski kerap kali terlihat dekat. Dia menilai kedekatan itu masih samar. 

"Saya yakin Jokowi tidak akan buka suara sampai hari H pemilu, 14 Februari 2024. Akan tetapi di belakang panggung, dia salah akan menjadi faktor politik yang akan menentukan konsolidasi politik dalam pilpres 2024," ujarnya melalui keterangan tertulis, Senin (25/7/2022).

Karena itulah, sambungnya, Jokowi effect sampai sekarang tidak terlalu terasa pada salah satu nama calon.

Dalam survei DTS tersebut, tiga nama calon kandidat teratas adalah Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto.

Dengan atau tanpa 'endorse' dari Jokowi, elektabilitas dan popularitas mereka bergerak dinamis. Namun masih ada sejumlah kandidat lain yang elektabilitasnya perlahan naik. 

Lebih lanjut, Gun Gun mengungkapkan faktor yang membuat Jokowi menang di dua pemilu sebelumnya. Menurutnya, gaya equalitarian Jokowi yang merangkul, turun ke bawah, dan mudah dimengerti menjadi kuncinya. 

Di sisi lain, katanya, gaya destructuring ala Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan kembali muncul di Pilpres 2024.

"Posisi itu akan terulang di 2024, ini adalah pertarungan dua gaya tersebut," ujar Gun Gun. 

Sementara itu, pengamat politik Ray Rangkuti menjelaskan temuan itu memperkuat terminologi politik di Indonesia yakni elektabilitas partai ditentukan oleh partai dengan segala aktivitasnya. 

Direktur Lingkar Madani (Lima) Indonesia itu juga menyarankan agar koalisi segera mengambil langkah pendekatan untuk memperlihatkan upaya mereka terhadap seorang calon. 

Dia mencontohkan Koalisi Indonsia Bersatu (KIB) yang belum menetapkan satu nama tapi KIB sudah menunjukkan gelagat dukungan kepada calon tertentu.

Menurut Ray, KIB harus memperjelas dukungannya terhadap calon tertentu yang cukup populer bagi publik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi Pemilu 2024 capres elektabilitas parpol koalisi partai
Editor : Aprianus Doni Tolok
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top