Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS dan China Siap Bertemu, Bahas Konflik Ukraina-Rusia?

Pejabat Amerika Serikat dan China bakal melakukan pertemuan bilateral tingkat tinggi, untuk pertama kalinya pada tahun ini.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 13 Maret 2022  |  23:44 WIB
Perang dagang AS-China - istimewa
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pejabat Amerika Serikat dan China akan mengadakan pertemuan dan pembicaraan tingkat tinggi secara langsung. Pertemuan kedua negara itu menjadi yang pertama sejak konflik Ukraina dan Rusia meletus.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Minggu (13/3/2022), perwakilan kedua negara akan beretemu di Roma, Italia pada Senin (14/3/2022). AS akan diwakili oleh Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan sementar China akan diwakili oleh anggota Politbiro Partai Komunis Yang Jiechi.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS Emily Horne mengatakan, topik pembicaraan pejabat kedua negara akan mencakup dampak pada keamanan regional dan global dari perang Rusia dengan Ukraina.

Sementara itu, menurut keterangan resmi Kementerian Luar Negeri China mengatakan kedua pihak akan bertukar pandangan tentang masalah global dan regional yang menjadi perhatian bersama, tanpa secara langsung menyebut konflik Ukraina-Rusia.

Adapun, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Joe Biden terus berupaya merayu China untuk turut menekan Rusia, terkait konflik dengan Ukraina. Namun, China sejauh ini tampak masih condong untuk membela rekannya yakni Rusia, dalam hal intervensi AS di konflik dengan Ukraina.

Sekadar informasi, Sullivan dan Yang terakhir bertemu untuk mewakili masing-masing negara di Swiss pada Oktober 2021. Kala itu keduannya membahas sejumlah topik terkiati kepentingan bersama seperti perubahan iklim, serta masalah hak asasi manusia di Xinjiang dan Hong Kong dan sengketa Taiwan dan Laut Cina Selatan.

Sejauh ini, AS cukup berhati-hati dalam mengidentifkasikan posisi China dalam konflik antara Ukraina dan Rusia. Gedug Putih pun masih meyakini China punya itikad baik untuk tidak mendukung Rusia dalam invasinya ke Ukraina.  

"Kami percaya, bahwa China pada kenyataannya menyadari Vladimir Putin merencanakan sesuatu bahkan sebelum invasi [Rusia ke Ukraina] terjadi. Mereka [China] mungkin tidak memahami sepenuhnya karena sangat mungkin Putin berbohong kepada mereka seperti dia berbohong kepada orang Eropa dan lainnya,” kata Sullivan seperti dilansir dari CNN, Minggu, (13/3/2022).

Sullivan menambahkan, AS sedang mengawasi apakah China memberikan dukungan materi atau dukungan ekonomi ke Rusia.

“Ini menjadi perhatian kami. Saya tidak akan duduk di sini di depan umum dan mengacungkan ancaman, tetapi apa yang akan saya katakan kepada Anda adalah bahwa kami berkomunikasi secara langsung, secara pribadi ke Beijing,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo pada pekan telah memperingatkan kepada perusahaan industri China, bahwa mereka akan menghadapi konsekuensi serius jika terus memasok barang ke Rusia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat Rusia Ukraina Perang Rusia Ukraina

Sumber : Bloomberg & CNN International

Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top