Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bacakan Pledoi, Rizieq Shihab Sebut Aksi 212, Ahok, dan Dirinya Target Kriminalisasi

Rizieq mengatakan bahwa sikap politiknya dan massa 411 dan 212 pada Pilkada DKI 2017 lalu tidak mendukung Ahok. Alasan tidak mendukung Ahok karena dianggap sebagai sosok arogan, berucap kasar dan kotor, serta kepanjangan tangan oligarki.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 20 Mei 2021  |  11:55 WIB
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab bersiap menjalani pemeriksaan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (12/12/2020). - Antara\r\n
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab bersiap menjalani pemeriksaan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (12/12/2020). - Antara\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Rizieq Shihab memulai nota pembelaan atau pleidoi atas perkara kerumunan di Petamburan, Jakarta Pusat, dengan menyebut perkara yang menjeratnya bukanlah kasus hukum, melainkan politik.

"Hukum hanya menjadi alat legalisasi dan justifikasi untuk memenuhi dendam politik oligarki terhadap saya dan kawan-kawan," kata Rizieq di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (20/5/2021).

Rizieq kemudian menyampaikan rangkaian peristiwa yang menjadi benang merah atas perkaranya. Menurut dia, semua ini dimulai dari berlangsungnya Aksi Bela Islam 411 dan 212 pada November dan Desember 2016.

"Saat itu umat Islam Indonesia bersatu menuntut Ahok untuk diadili karena telah menistakan Alquran," ujar Rizieq.

Setelah itu, muncul Pilkada DKI 2017. Menurut Rizieq, Basuki Tjahaja Purnama  (BTP) atau Ahok pada saat itu didukung oleh para oligarki. BTP juga disebut didukung oleh Presiden dan para menterinya, panglima TNI, kapolri, dan seluruh aparatur sipil negara (ASN) di wilayah Ibu Kota.

"Kala itu para oligarki sangat yakin, bahkan berani memastikan Ahok pasti menang."

Kepastian itu, ujar eks pimpinan FPI itu, juga dilihat dari dukungan dari sejumlah ormas besar dan hampir semua partai politik, serta berbagai media cetak dan elektronik. Selain itu, ada pula peran lembaga survei dan puja-puji tokoh nasional dan pengamat.

"Tidak ketinggalan para buzzer secara terus menerus menyerang siapa saja yang tidak mendukung Ahok, juga pengerahan para dukun dan paranormal untuk minta bantuan kekuatan gaib, dan pengerahan gerombolan preman untuk mengintimidasi masyarakat," kata Rizieq.

Tidak ketinggalan, Rizieq juga menyebut peran fatwa-fatwa sesat dari ulama gadungan yang mendukung Ahok. Caranya, kata dia, dengan memutar-balikkan ayat dan hadits, serta korupsi dalil.

"Di samping itu juga ada siraman dana besar-besaran dari para cukong oligarki," kata Rizieq.

Sementara itu, Rizieq mengatakan bahwa sikap politiknya dan massa 411 dan 212 pada Pilkada DKI 2017 lalu tidak mendukung Ahok. Alasan tidak mendukung Ahok karena dianggap sebagai sosok arogan, berucap kasar dan kotor, serta kepanjangan tangan oligarki.

"Apalagi Jakarta adalah wilayah mayoritas muslim yang agamis dan religius, sehingga kami sepakat berkomitmen untuk berjuang mengalahkan Ahok di media sosial dan pilkada serta pengadilan," ujar Rizieq.

Mulai saat itulah, Rizieq Shihab mengklaim, dia dan kawan-kawannya menjadi target kriminalisasi. Sepanjang 2017, menurut dia, ragam rekayasa kasus ditujukan kepada dirinya dan kawan-kawan.

"Bahkan kami menjadi target operasi intelijen hitam berskala besar," kata Rizieq.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ahok habib rizieq Pilkada DKI 2017

Sumber : Tempo.co

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top