Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Awal Kebohongan Siswi Prancis, Berujung Pemenggalan Samuel Paty

Siswi di Prancis yang melaporkan Samuel Paty, terkait dengan presentasi gambar Nabi Muhammad pada tahun lalu baru saja mengakui bahwa dia berbohong terkait dengan laporannya itu.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 11 Maret 2021  |  13:08 WIB
Samuel Paty, seorang guru di Prancis yang kepalanya dipenggal akibat menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya. - Istimewa
Samuel Paty, seorang guru di Prancis yang kepalanya dipenggal akibat menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Fakta baru mengenai kasus pemenggalan guru sejarah dan bahasa di Prancis yakni Samuel Paty akhirnya terbuka.

Siswi berinisial Z yang melaporkan Paty, baru saja mengakui bahwa dia berbohong terkait dengan tuduhannya kepada sang guru.

Sebelumnya, sang siswi tersebut melaporkan bahwa Paty telah menunjukkan gambar kartun Nabi Muhammad di kelasnya selama pelajaran tentang kebebasan berekspresi pada Oktober lalu.

Seperti dilansir dari Tempo yang mengutip Sky News, Kamis (11/3/2021), ketika menunjukkan gambar Nabi Muhamad tersebut, siswa-siswi Muslim diminta oleh Paty untuk keluar kelas terlebih dahulu.

Menurut laporan media Prancis, gadis itu juga memberi tahu ayahnya bahwa dia telah diskors karena tidak setuju dengan Paty atas presentasi kartun Nabi Muhammad yang muncul di majalah satire Charlie Hebdo.

Pengajaran kebebasan berekspresi Paty tersebut, memicu keluhan dari beberapa orang tua Muslim, termasuk ayah dari Z yang mengklaim bahwa Paty telah meminta siswa Muslim untuk meninggalkan kelas hari itu.

Menurut laporan media Prancis, gadis itu awalnya memberi tahu ayahnya bahwa dia telah diskors karena tidak setuju dengan Paty atas presentasi kartun Nabi Muhammad yang muncul di majalah satire Charlie Hebdo.

Kemarahan pun muncul dari masyarakat Muslim di Prancis bahkan dunia.

Sepuluh hari setelah siswi tersebut menceritakan itu ke ayahnya, Paty dipenggal oleh Abdullakh Anzorov yang berusia 18 tahun, seorang pengungsi dari Moskow berdarah Chechnya yang kemudian ditembak mati oleh polisi saat kejadian.

Belakangan, setelah Kepolisian Prancis melakukan penyelidikan, ditemukan fakta baru bahwa siswi tersebut berbohong mengenai presentasi kartun Nabi Muhammad oleh Paty.

Dia mengaku tidak ada di kelas hari itu dan tidak melihat kartun itu.

"Dia berbohong karena merasa terjebak dalam situasi ini karena teman-teman sekelasnya memintanya menjadi juru bicara," kata pengacaranya Mbeko Tabula.

Di sisi lain, menurut Le Parisien, gadis itu diskors sehari sebelum jam pelajaran diberikan karena berulang kali absen dari sekolah.

Seperti dilaporkan oleh Euronews, penyelidikan polisi telah mengungkapkan pada November bahwa gadis itu absen karena sakit selama kelas Samuel Paty pada 6 Oktober 2020.

"Situasi gadis itu tidak bisa dipertahankan. Semua elemen dalam berkas kasus membuktikan sejak awal bahwa dia berbohong," kata Virginie Le Roy, pengacara keluarga Paty, kepada radio RTL.

Siswi itu telah didakwa dengan tuduhan fitnah yang menyebabkan kematian, Euronews melaporkan. Pengacara keluarga Samuel Paty juga menuduh Brahim Chnina, ayah dari siswi, berbohong. Chnina dan seorang aktivis Islam, Abdelhakim Sefrioui, keduanya dituduh "terlibat dalam pembunuhan" dan ditahan dalam penahanan pra-peradilan.

Jaksa penuntut telah menyatakan bahwa ada "hubungan sebab akibat langsung" antara kampanye online melawan Samuel Paty dan pembunuhannya.

Sebanyak empat belas orang telah didakwa dalam kasus tersebut, termasuk enam siswa sekolah itu, tiga teman penyerang, dan tiga orang muda yang berhubungan dengannya di jejaring sosial.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

prancis islam Charlie Hebdo

Sumber : Tempo.co

Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top