Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Roy BB Janis dan Dinamika Politik Kepala Banteng

Prestasi gemilang yang mengantarkan PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu saat itu telah menjadikan Roy BB Janis sebagai ketua fraksi dengan jumlah anggota terbanyak pasca-Orde Baru.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 29 Desember 2020  |  11:29 WIB
Roy BB Janis/facebook.com-Roy/BB - Janis
Roy BB Janis/facebook.com-Roy/BB - Janis

Bisnis.com, JAKARTA - Siapa yang tidak kenal dengan sosok politisi senior Roy BB Janis. Dia lah “penguasa DPR” dalam arti politik ketika memimpin 153 anggota Fraksi PDI Perjuangan periode 2001-2003 di Senayan atas hasil Pemilu 1999.

Prestasi gemilang yang mengantarkan PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu saat itu telah menjadikan Roy BB Janis sebagai ketua fraksi dengan jumlah anggota terbanyak pasca-Orde Baru.

Maklum, saat itu, Partai Golkar hanya mampu menguasai 120 kursi setelah kalah untuk pertama kalinya dalam pemilu sejak lebih dari 30 tahun berkuasa.

Pada awal Era Reformasi, PPP pun sebagai partai politik hanya menguasai 51 kursi meski selama era kepemimpinan Presiden Soeharto selalu berada di depan PDI Perjuangan.

Seperti ikan dengan air, politisi bernama lengkap Roy Binilang Bawatanusa Janis itu memang tidak pernah lepas dari kehidupan politik dengan segala dinamikanya.

Dunia politik seperti air mengalir yang menghidupinya, hingga ajal menjemputnya pada Senin malam (28/12).

Berita duka yang datang itu sekaligus sebagai pertanda akhir dari dunia yang ditekuninya sejak semasa menjadi aktivis mahasiswa.

Roy meninggal dunia pada usia 63 tahun sebagai politisi, meski tidak lagi sebagai kader partai yang dia besarkan bersama Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Maklum, Roy telah memilih berlabuh di Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) yang sama-sama menggunakan simbol kepala banteng dengan nuansa berbeda.

Roy mendirikan PDP dan langsung mendapat tugas sebagai Ketua Pelaksana Harian Pimpinan Kolektif Nasional Partai Demokrasi Pembaruan setelah keluar dari PDI Perjuangan pada 2005.

Pilihan Roy untuk berpisah jalan dengan Megawati memang tidak terlepas dari konflik internal partai setelah Kongres Bali pada April 2005.

Pilihan untuk mengundurkan diri sebagai anggota DPR tentu merupakan konsekuensi logis atas keputusannya.

Sebagai politisi kawakan, bakat politik Roy sudah terlihat sejak menjadi mahasiswa. Hal itu dibuktikannya sejak masa kuliah S-1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).

Karena bakat politik itu pulalah dia dipercaya selain sebagai pengurus Senat Mahasiswa, juga sempat menjadi Ketua Komisariat GMNI FHUI sebelum memutuskan bergabung dengan PDI Perjuangan.

Dia pun pernah tercatat sebagai Ketua DPD PDIP DKI Jakarta periode 1996-2000.

Hanya saja politik memang memiliki logikanya sendiri. PDP yang dibangun Roy bersama beberapa eks-politisi PDIP seperti Mantan Menteri BUMN Laksamana Sukardi dan sejumlah mantan anggota DPR termasuk Sophan Sophiaan hingga pengusaha Arifin Panigoro, tidak seberuntung PDIP.

PDP dalam beberapa kali pemilu tidak lolos parliamentary treshold (PT) di DPR sehingga Roy gagal mambawa partainya menuju Senayan.

Sebaliknya, Partai yang dipimpin Megawati kian berkibar, tidak saja pada 1999, tapi juga memenangkan dua pemilu secara berturut-turut pada 2014 dan 2019.

Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya demikian menurut kata pepatah.

Selamat jalan Bung Roy BB Janis. Sejarah mencatat Bung sebagai politisi senior yang telah mewarnai jagat politik Tanah Air dengan segala dinamikanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

arifin panigoro megawati soekarnoputri Kongres PDIP obituari
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top