Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perusahaan Teknologi China Ramai-Ramai Incar Singapura, Ada Apa Ya?

China mulai melakukan gerakan China Plus One yang ditandai dengan relokasi besar-besaran ke Asean, khususnya Singapura.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 20 Oktober 2020  |  10:37 WIB
Patung Merlion berdiri di depan gedung-gedung pencakar langit di Singapura, Selasa (24/3/2020). - Bloomberg/Wei Leng Tay
Patung Merlion berdiri di depan gedung-gedung pencakar langit di Singapura, Selasa (24/3/2020). - Bloomberg/Wei Leng Tay

Bisnis.com, JAKARTA - Meningkatnya biaya bisnis, ketidakpastian yang timbul dari memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat, dan penutupan perbatasan karena pandemi virus Corona, mendorong perusahaan China untuk mendiversifikasi operasi sambil memanfaatkan peluang di dalam negeri.

Negara tujuan utama diversifikasi operasi tersebut yakni Singapura. Sebuah laporan menunjukkan gelombang raksasa perusahaan teknologi China yang memperluas jejak di negara kota tersebut.

Lau Kong Cheen dan Vanessa Liu, dosen bisnis senior di Universitas Ilmu Sosial Singapura mengatakan di bawah strategi "China Plus One" yang telah digunakan oleh pebisnis di dalam negeri selama bertahun-tahun, China tetap menjadi sumber pasokan utama sementara operasi tertentu yang dilakukan di negara lain.

"Oleh karena itu, strategi ini adalah cara untuk mendiversifikasi risiko rantai pasokan, [dan mendapatkan] akses ke saluran pendapatan dan sumber daya baru sambil memanfaatkan peluang pasar China,” kata keduanya, dilansir South China Morning Post, Selasa (20/10/2020).

Bulan lalu, Tencent Holdings mengonfirmasi rencana untuk membangun kantor baru di Singapura sebagai bagian dari ekspansi Asia Tenggara, sementara raksasa e-commerce Alibaba Group, yang juga memiliki saham di South China Morning Post, dilaporkan sedang dalam pembicaraan untuk investasi senilai US$ 3 miliar di Grab.

Perusahaan platform konten ByteDance, pengembang aplikasi berbagi video TikTok yang populer, juga berencana menginvestasikan beberapa miliar dolar di pusat data negara kota itu.

Analis dan ekonom mengatakan ini adalah awal dari momentum di tengah meningkatnya pengawasan terhadap perusahaan China oleh Washington. Namun, meski Singapura tampaknya akan memperoleh keuntungan ekonomi dari gelombang ini, hal itu juga dapat menjadi tantangan bagi pemerintah jika tidak ditangani dengan hati-hati.

Lau dan Liu mengatakan Asia Tenggara tampaknya menjadi jantung dari strategi 'China Plus One'. Perusahaan China menginvestasikan sekitar US$1,78 miliar di perusahaan rintisan teknologi di kawasan itu dalam tujuh bulan pertama 2019 saja, termasuk dalam platform pemesanan pengiriman online Malaysia Easy Parcel dan perusahaan e-commerce Indonesia Tokopedia.

Perang dagang AS-China telah memicu lompatan mendesak ke kawasan tersebut karena operasi bisnis menjadi semakin terganggu atau dibatasi oleh perseteruan itu.

Wang Yanbo, asisten profesor strategi dan kebijakan di Sekolah Bisnis National University of Singapore (NUS), mengatakan awalnya para pengusaha tidak terlalu mempertimbangkan geopilitik dalam rencana ekspansinya, terutama ke AS dan Uni Eropa. Namun hubungan rumit AS dan China serta ketidakpastian di UE telah mendorong pergeseran perspektif.

"Sekarang, geopolitik telah menjadi faktor nomor satu yang harus dipikirkan oleh para pengusaha. Ini telah memaksa pengusaha China, terutama mereka yang memiliki ambisi internasional, untuk memikirkan kembali strategi global mereka," kata Wang.

Lawrence Loh, seorang profesor administrasi bisnis di NUS, setuju bahwa pendekatan 'China Plus One' telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Dia telah mengamati peningkatan jumlah kepala eksekutif dari perusahaan terkemuka China yang mendaftar ke program pelatihannya tentang cara memasuki pasar Asia Tenggara.

Singapura menjadi pilihan utama karena infrastruktur konektivitasnya menjadikannya pijakan yang tepat bagi perusahaan China yang ingin masuk pasar Asean untuk pertama kalinya. Singapura juga memiliki pasar domestik konsumen dengan daya beli yang dapat berfungsi sebagai batu uji untuk strategi bisnis.

Chen Guoli, seorang profesor strategi di Insead Business School mengatakan arus perusahaan China ke Singapura akan membawa keuntungan jangka pendek bagi negara kota tersebut. Selain menciptakan lapangan kerja, tren ini juga dapat mengirimkan sumber daya teknologi ke negara tersebut dan membantu mempertajam kemampuan inovasi Singapura.

Ramkishen Rajan, ekonom dan profesor di Sekolah Lee Kuan Yew mengatakan gelombang masuk perusahaan China dapat meningkatkan panggung teknologi lokal dengan memfasilitasi technopreneurship yang lebih besar secara lokal karena penduduk setempat yang bekerja di perusahaan teknologi China melanjutkan untuk mendirikan usaha mereka sendiri.

Namun dia memperingatkan bahwa negara kota itu perlu berhati-hati karena sektor teknologinya, dan ekonomi umumnya, tidak bergantung pada satu negara.

Rajan mengatakan jika investasi teknologi China meningkat pesat, penting bagi pemerintah Singapura untuk memastikan Beijing tidak memandang negara kepulauan itu sebagai kota milik China, sebagaimana Hong Kong.

Singapura telah berulang kali menegaskan diri sebagai masyarakat multietnis dengan identitas budayanya sendiri. Pesan tersebut harus terus digaungkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teknologi china singapura perang dagang AS vs China
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top