Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Alasan Pertumbuhan Ekonomi China Meleset dari Perkiraan

Meski meleset dari konsensus para ekonom, pertumbuhan ekonomi China yang mencapai 4,6 persen melampaui ekspansi 3,2 persen pada kuartal sebelumnya.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  15:56 WIB
Properti di Shenzhen, China, terlihat di latar belakang Taman Linhua./Bloomberg - Qilai Shen
Properti di Shenzhen, China, terlihat di latar belakang Taman Linhua./Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Konsensus ekonom Bloomberg memperkirakan ekonomi China tumbuh 5,5 persen pada kuartal ketiga tahun ini. Pertumbuhan yang sebenarnya yakni 4,9%, atau meleset enam poin persentase.

Dilansir Bloomberg, Senin (19/10/2020), meski meleset, kenaikan itu melampaui ekspansi 3,2 persen pada kuartal sebelumnya. Sebagian alasan angka itu lebih rendah dari perkiraan yakni lonjakan impor yang mencapai 13,2 persen pada September dari tahun lalu.

Hal itu menekan kontribusi bersih perdagangan terhadap penghitungan PDB. Namun, ekonom seperti Liu Peiqian di Natwest Markets Plc berpendapat bahwa hal itu menunjukkan permintaan kuat yang mendasari pertumbuhan ekonomi. "Itu tidak boleh dipandang negatif," kata Peiqian.

Menurut Biro Statistik Nasional, ekspor bersih hanya menyumbang 0,6 poin persentase ke ekspansi PDB China pada kuartal ketiga. Perekonomian berkembang 0,7 persen pada tahun ini, menunjukkan bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah mampu menutup kerugian yang diderita sepanjang paruh pertama tahun ini.

Sementara sektor industri masih memimpin pemulihan, konsumen akhirnya mulai mengejar ketertinggalan. Pertumbuhan penjualan ritel menjadi 3,3 persen pada September, jauh di atas perkiraan median 1,6 persen pada survei ekonom Bloomberg.

Lonjakan tak terduga dalam penjualan kendaraan jelas berkontribusi pada kenaikan, tetapi bahkan tanpa itu, penjualan ritel akan naik 2,4 persen dari tahun lalu.

Dengan sebagian besar infeksi virus telah terkendali dan pengeluaran yang kuat selama liburan Golden Week baru-baru ini, data menunjukkan kepercayaan konsumen mulai kembali untuk menggenjot pengeluaran. Namun, masih banyak hal yang harus diperbaiki, karena penjualan ritel kumulatif selama sembilan bulan pertama tahun ini menurun 7,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pendorong pertumbuhan lain yakni, investasi properti yang tumbuh 5,6 persen pada Januari-September 2020 dari periode yang sama 2019. Sementara itu, sektor real estate telah menjadi penopang pertumbuhan ekonomi meskipun dibarengi kekhawatiran tentang meningkatnya utang. Hal itu diperjelas baru-baru ini oleh pengembang properti China Evergrande Group, yang menghadapi kemungkinan krisis uang bulan lalu.

Adapun pertumbuhan investasi aset tetap tumbuh positif dalam sembilan bulan tahun ini. Namun, laju investasi infrastruktur tetap lemah.

"Itu bisa mencerminkan kesulitan yang dihadapi pemerintah daerah dalam menemukan proyek yang bagus," kata Shaun Roache, kepala ekonom Asia-Pasifik di S&P Global Ratings.

Belanja yang dipimpin negara terus menjadi faktor utama dalam investasi, dengan belanja infrastruktur meningkat 0,2 persen dalam tiga kuartal terakhir, sementara investasi aset tetap swasta terus menyusut.

Di sisi lain, menurut data yang dikumpulkan Bloomberg, rasio leverage ekonomi riil China, yakni persentase utang rumah tangga, perusahaan nonkeuangan dan pemerintah terhadap total PDB, meningkat menjadi 269,2 persen pada kuartal ketiga.

Itu adalah cerminan dari langkah moneter dan fiskal yang telah dilakukan para pembuat kebijakan untuk melindungi perekonomian dari dampak pandemi virus corona. Kunci yang harus diperhatikan adalah apakah rasio tersebut akan turun ketika pertumbuhan ekonomi kembali normal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china Covid-19
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top