Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ada Klaster Baru Covid-19, China Tak Lagi Bebas Virus Corona

Dari total 12 orang tersebut, sejauh ini enam orang tidak menunjukkan gejala (OTG).
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 12 Oktober 2020  |  11:24 WIB
Warga memakai masker pelindung menyusul penyebaran penyakit  Covid-19 di Apple Store saat penjualan iPhone SE baru dimulai, di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China, Jumat (24/4/2020). - Antara
Warga memakai masker pelindung menyusul penyebaran penyakit Covid-19 di Apple Store saat penjualan iPhone SE baru dimulai, di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China, Jumat (24/4/2020). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – China kembali melaporkan klaster infeksi Virus Corona baru di kota pelabuhan Timur Qingdao setelah lebih dari dua bulan tak melaporkan kasus baru.

Hal itu menegaskan bahwa risiko tetap ada, bahkan di wilayah yang disebut-sebut sudah aman.

Dilansir Bloomberg, Kota di Provinsi Shandong pada Minggu (11/10/2020), ada tiga kasus baru tanpa gejala yang disebut tertular dari rumah sakit yang menangani kasus Covid-19 dari pasien luar negeri.

Pengujian kemudian diperluas terhadap pasien dan staf rumah sakit yang menemukan sembilan orang lainnya terinfeksi. Dari total 12 orang tersebut, sejauh ini enam orang tidak menunjukkan gejala (OTG).

Komisi Kesehatan setempat mengatakan bahwa tes masih terus dilanjutkan, dan diharapkan bisa dilakukan ke seluruh kota berjumlah 9,5 juta orang dalam lima hari.

Klaster tersebut menjadi yang terbesar di China dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan betapa sulitnya lepas dari Virus Corona di satu wilayah ketika di wilayah lain penyebarannya masih tinggi, seperti di India, Amerika, dan di Eropa yang juga kembali melonjak.

Beberapa negara di Asia Pasifik, seperti Thailand dan Selandia Baru juga masih harus mempertahankan agar tetap bisa bebas Virus Corona, sambil mengawasi kalau-kalau patogen itu muncul lagi.

Namun, klaster baru tersebut dikatakan tidak akan mengganggu progres China dalam melewati Covid-19 dengan ekonominya yang sudah kembali pulih dan masyarakatnya sudah kembali hidup normal.

Adapun, setelah melewati periode libur nasional selama delapan hari dan menghasilkan 637 juta perjalanan domestik atau 80 persen dari tingkat perjalanan tahun lalu, masyarakat China yakin bahwa perjalanan massal dengan melakukan pembatasan sosial tidak akan menghasilkan gejolak virus baru yang tidak terkendali.

Kembalinya virus ini beserta sumbernya masih jadi misteri, karena pembawa virus atau carrier umumnya dalam keadaan sehat, sehingga sulit untuk dilacak.

Bulan lalu, di Qingdao juga ditemukan dua orang pekerja pelabuhan, yang bekerja di bagian makanan laut beku, positif Covid-19, walaupun rutin memeriksakan diri dan tidak menunjukkan gejala.

Setelah kasus tersebut, China menahan impor bahan makanan beku dari sejumlah negara, karena virusnya menular lewat bungkus makanan dan di permukaan daging atau makanan laut yang beku.

Menangani kasus baru tersebut, Pemerintah Qingdao berpegang pada pedoman yang digunakan China untuk menahan penyebaran wabah yang berhasil di terapkan di Wuhan sambil memaksimalkan tes massal dan pelacakan kontak.

Nantinya, semua yang hasil tesnya positif  Covid-19 akan dikarantina meskipun tak bergejala.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Virus Corona covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top