Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Waduh! Shell Akan PHK 9.000 Karyawan, Gara-Gara Covid-19 atau...?

Karena krisis Covid-19 mempercepat peralihan ke energi hijau yang rendah emisi karbon, perusahaan minyak termasuk Shell besar-besaran mengurangi tenaga kerja dan memangkas pengeluaran.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 30 September 2020  |  19:07 WIB
Logo Shell.
Logo Shell.

Bisnis.com, JAKARTA – Royal Dutch Shell Plc berencana melakukan pemutusan hubungan kerja hingga 9.000 karyawan dalam upaya penghematan di tengah penurunan harga minyak mentah.

Selain itu, langkah ini juga menyusul perombakan bisnis raksasa minyak dan gas tersebut dalam pengembangan mengembangkan energi hijau dan pengurangan emisi karbon.

Langkah tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh sejumlah perusahaan minyak besar di dunia, yang dikenal dengan Big Oil, karena pandemi virus terus berlanjut.

Sejumlah orang di industri percaya bahwa era pertumbuhan permintaan sudah berakhir. Karena krisis mempercepat peralihan ke energi hijau yang rendah emisi karbon, perusahaan minyak besar-besaran mengurangi tenaga kerja, memangkas pengeluaran hingga miliaran dolar, serta mengurangi pembayaran dividen.

Shell berencana memangkas 7.000 hingga 9.000 tenaga kerja secara bertahap hingga akhir 2022. Jumlah ini setara dengan 11 persen angkatan kerja di perusahaan. Jumlah itu termasuk sekitar 1.500 orang yang melakukan pengunduran diri sukarela tahun ini. Shell memprediksi penghematan biaya tahunan yang berkelanjutan senilai US$2 miliar hingga $2,5 miliar.

Chief Executive Officer Shell, Ben van Beurden, mengatakan perusahaan berupaya menjadi entitas yang lebih sederhana, lebih ramping, lebih kompetitif.

“Di banyak tempat, kami memiliki terlalu banyak lapisan di perusahaan, terlalu banyak tingkatan antara saya, sebagai CEO, dan operator serta teknisi di lokasi kami,” ungkap Beurden dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Bloomberg.

Shell berencana untuk kembali fokus pada bisnis penyulingannya dan mengurangi jumlah pabriknya menjadi kurang dari 10 dari 15 pabrik yang aktif saat ini.

Sementara itu, penyulingan telah jauh lebih rendah pada kuartal III/2020 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, sedangkan penjualan produk minyak menyusut menjadi sekitar 4 juta-5 juta barel per hari dari 6,7 juta pada tahun sebelumnya.

Shell mengatakan hasil perdagangan produk minyak pada kuartal ketiga akan jauh di bawah rata-rata historis dan akan "secara signifikan lebih rendah" dibandingkan kuartal kedua.

Hal ini menunjukkan bahwa keuntungan yang menyelamatkan kinerja Shell tidak akan terulang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

shell phk
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top